22 April 2026
AA20dWLK.jpg

Harga minyak global mengalami kenaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan ancaman terhadap Iran. Ancaman ini menyebutkan bahwa AS akan menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur lainnya jika Iran tidak segera membuka akses Selat Hormuz. Peristiwa ini memicu kekhawatiran di pasar minyak, yang langsung merespons dengan kenaikan harga.

Minyak acuan Brent naik sebesar 1,3% menjadi US$ 110,44 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 1,4% menjadi US$ 113,12 per barel. Kenaikan ini menunjukkan ketidakstabilan pasar akibat ancaman Trump yang membuat investor semakin waspada.

Selat Hormuz merupakan jalur penting dalam pengiriman minyak dari Teluk Persia ke pasar global. Seperlima pasokan migas dunia melalui jalur ini. Dengan ancaman yang diberikan oleh AS, kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Pasar Minyak Terguncang

Kondisi ini memicu guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga berkembang menjadi krisis energi global. Harga minyak dan turunannya melonjak, yang berdampak pada inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta beban bagi pelaku usaha dan konsumen. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memengaruhi sektor transportasi dan industri yang sangat bergantung pada bahan bakar.

Beberapa negara telah mengambil langkah untuk mengamankan pasokan minyak mereka. Misalnya, PM Anwar Ibrahim dari Malaysia menyatakan bahwa kapal-kapal Malaysia dapat melewati Selat Hormuz tanpa kendala. Sementara itu, Filipina menerima jaminan dari Iran terkait keamanan kapal pengangkut bahan bakar di wilayah tersebut. India juga kembali mengimpor minyak dari Iran setelah hampir tujuh tahun tidak melakukan impor.

Peringatan dari OPEC+

Kelompok produsen minyak dan sekutunya (OPEC+) memberikan peringatan bahwa konflik Timur Tengah ini akan memiliki dampak jangka panjang terhadap pasokan minyak. Meskipun konflik berakhir, dampaknya akan terasa selama beberapa waktu. Untuk mengatasi hal ini, OPEC+ menyetujui peningkatan kuota produksi minyak, meskipun aliran pasokan dari Teluk Persia masih terbatas.

Penguasaan atas Selat Hormuz tetap menjadi pusat konflik. Iran hanya mengizinkan sejumlah kapal kecil melintasi jalur tersebut, termasuk kapal kontainer dari Prancis, Jepang, Malaysia, dan Pakistan. Keputusan ini memicu ketegangan antara Iran dan negara-negara lain yang bergantung pada jalur ini.

Ketegangan Pasokan Jangka Pendek

Memasuki minggu keenam konflik, kekhawatiran tentang pasokan jangka pendek semakin tajam. Selisih harga kontrak minyak Brent melonjak lebih dari US$ 10 per barel, mencatatkan selisih terbesar sejak perang Rusia-Ukraina. Pada akhir periode Paskah, pasar minyak menunjukkan pengetatan, dengan harga pengiriman minyak Brent melonjak di atas US$ 140 per barel, yang merupakan rekor tertinggi sejak 2008.

Ketidakpastian dari Trump

Investor terguncang oleh pesan-pesan Trump yang sering berubah-ubah terkait perang ini. Mulai dari klaim bahwa perang akan segera berakhir hingga ancaman untuk meningkatkan serangan, termasuk terhadap infrastruktur sipil. Ia juga memiliki rekam jejak menetapkan tenggat waktu yang kemudian tidak dipenuhi, sehingga memperparah ketidakpastian di pasar.

Iran sebelumnya mengumumkan potensi Irak bisa dikecualikan dari pembatasan Selat Hormuz. Hal ini memungkinkan adanya peningkatan pengiriman minyak ke pasar global. Namun, pejabat Irak menyatakan tetap berhati-hati, karena keputusan ekspor bergantung pada kesiapan perusahaan pelayaran untuk mengambil risiko melintasi jalur tersebut.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Oman menyebut bahwa mereka telah berdiskusi dengan Iran terkait opsi kepastian arus pelayaran Selat Hormuz. Kedua pihak telah mengajukan proposal untuk dipelajari, sebagai upaya menciptakan solusi yang dapat mengurangi ketegangan di wilayah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *