25 April 2026
icdx-catat-lonjakan-komoditas-minyak-mentah-di-tengah-krisis-timteng

Admin mencatat bahwa Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mengalami lonjakan transaksi kontrak berjangka komoditas minyak mentah sejak krisis politik terjadi di Timur Tengah.

Transaksi kontrak berjangka komoditas minyak mentah COFU10 mencapai 648 lot sepanjang bulan Maret 2026, melonjak jauh dari transaksi di bulan Februari 2026 sebesar 12 lot dan Januari 2026 sebesar 4 lot. COFU10 merupakan kontrak berjangka minyak mentah yang merepresentasikan 10 barel per lot, dengan jenis minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang ringan dan manis, serta menjadi salah satu patokan harga minyak dunia utama.

Direktur ICDX, Nursalam, menyatakan bahwa lonjakan transaksi kontrak berjangka minyak mentah COFU10 menunjukkan tingginya minat pelaku usaha melakukan hedging atau lindung nilai atas komoditas tersebut. Admin mengutip Nursalam, “…Krisis di Timur Tengah cukup memberikan guncangan pada pasar energi global, khususnya minyak mentah. Dalam situasi seperti ini, hedging atau lindung nilai dapat mengatasi risiko yang terjadi atas perubahan harga pada pasar fisik…” Selain kontrak berjangka minyak mentah, Nursalam juga menyebutkan bahwa ICDX telah memfasilitasi transaksi multilateral yang dapat dimanfaatkan para pelaku usaha untuk hedging dari beberapa komoditi seperti mata uang dan emas.

Commodity Analyst, Research & Development ICDX, Girta Yoga, menyatakan bahwa harga minyak mentah dalam jangka pendek masih cukup kuat untuk bergerak pada tren bullish, karena efek dari risiko geopolitik timur tengah. Admin mengutip Girta Yoga, “…Risiko geopolitik dari perang Iran ini berdampak langsung pada gangguan pasokan di pasar global akibat aksi saling blokade di jalur pengiriman vital, terutama Selat Hormuz yang berkontribusi terhadap sekitar 20 persen pasokan energi global…”

Selain itu, indikator lain yang dipantau termasuk kelanjutan negosiasi gencatan senjata AS – Iran untuk mencapai kesepakatan damai yang mengakhiri perang Iran, perkembangan konflik Israel – Lebanon, kebijakan terkait output OPEC+, dan pertumbuhan permintaan di negara importir utama seperti China dan India.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *