25 April 2026
AA1Z5Q8A.jpg

Harga Emas Terus Turun, Tren Penurunan Berlanjut

Harga emas di pasar spot terus mengalami penurunan hingga memasuki akhir pekan ini. Pada Jumat (20/3/2026), harga emas mengalami koreksi sebesar 3,1% menjadi US$4.508,96. Penurunan ini menjadi yang kedelapan secara beruntun dalam delapan sesi terakhir.

Di dalam negeri, harga buyback emas Antam yang menjadi acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) turun sebesar Rp55.000 menjadi Rp2.610.000 per gram pada Jumat (20/3/2026). Meskipun demikian, para pembeli emas Antam awal tahun ini masih menikmati potensi keuntungan jual. Harga emas Antam ukuran 1 gram pada awal tahun ini masih dibanderol Rp2.504.000.

Pembeli emas Antam pada awal 2025 juga masih menikmati potensi keuntungan jual karena harga emas Antam ukuran 1 gram saat itu mencapai Rp1.524. Buyback emas adalah transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang ditawarkan lebih rendah dari harga jual saat itu.

Namun, buyback emas tetap bisa memberikan keuntungan jika ada selisih besar antara harga jual dan harga buyback. Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP. PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

Harga buyback emas Antam bergerak mengikuti harga emas di pasar spot. Sebelumnya, lonjakan harga minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar akibat konflik memicu kekhawatiran inflasi. Hal ini mengurangi peluang bank sentral memangkas biaya pinjaman. Kondisi ini cenderung menekan emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.

Emas yang selama ini dipandang sebagai aset lindung nilai juga mencatat penurunan setiap pekan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran bulan lalu. Penurunan ini terjadi seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dan penguatan dolar AS. Selain itu, aksi jual emas oleh investor untuk menutup kerugian di aset lain juga berdampak negatif.

Exchange-traded funds (ETF) berbasis emas juga mencatat arus keluar. Robert Gottlieb, mantan trader logam mulia di JPMorgan Chase & Co. yang kini menjadi komentator pasar independen, menyarankan agar tidak membeli saat harga turun karena volatilitasnya masih terlalu tinggi. Ia menambahkan bahwa selama volatilitas belum mereda dan harga belum menunjukkan konsolidasi, tekanan jual masih berpotensi berlanjut.

Di sisi lain, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, pada pertengahan pekan ini memutuskan mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pasar. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pelonggaran kebijakan hanya akan dipertimbangkan kembali jika terdapat kemajuan dalam menurunkan inflasi.

Pergerakan emas sejak pecahnya perang Iran mencerminkan pola serupa pada 2022 ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu guncangan energi di pasar global. Pada tahun tersebut, emas mencatat penurunan selama tujuh bulan berturut-turut hingga Oktober, yang menjadi rekor penurunan terpanjang.

Meski mengalami koreksi baru-baru ini, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 8% sepanjang tahun berjalan. Sebelumnya, harga logam mulia itu sempat menyentuh rekor mendekati US$5.600 per ons pada akhir Januari. Reli itu didorong oleh antusiasme investor, pembelian oleh bank sentral, serta kekhawatiran terhadap ancaman terhadap independensi Federal Reserve dari Presiden AS Donald Trump.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *