26 April 2026
AA1vwl4L.jpg


Dewa News – JAKARTA.

Prospek industri ritel fashion, khususnya segmen department store masih menghadapi tekanan berat di semester II-2025.

Meski tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan terus meningkat, perubahan pola belanja dan belum pulihnya daya beli kelas menengah ke bawah menjadi tantangan utama.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menilai, fenomena penutupan gerai department store bukanlah hal baru.

Sejumlah nama besar seperti Lotus, Centro, hingga Golden Truly telah lebih dulu menghentikan operasional secara permanen.

Terbaru, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) kembali menutup salah satu gerainya.

Kali ini, giliran Matahari Plaza Kalibata, Jakarta Selatan, yang resmi berhenti beroperasi baik secara luring maupun daring terhitung mulai Selasa, 1 Juli 2025.

“Pergeseran gaya belanja menjadi penyebab utama. Di kota-kota besar, konsumen kini tidak hanya mencari produk, tapi juga pengalaman berbelanja yang unik dan bermakna,” ujar Alphonzus kepada Dewa News.co.id, Jumat (4/7).


Customer Experience Jadi Kunci Bertahan

Tren belanja berbasis customer experience menjadi pembeda utama antara toko fisik dan e-commerce.

Jika peritel tidak mampu menghadirkan pengalaman belanja yang personal dan menarik, maka risiko kehilangan pelanggan akan terus meningkat.

“Jika customer journey tidak kuat, maka toko fisik langsung berhadapan dengan persaingan e-commerce. Inilah yang menyebabkan banyak gerai mulai ditinggalkan,” tegas Alphonzus.

Meski demikian, secara umum lalu lintas pengunjung mal menunjukkan tren pemulihan.

Banyak mal baru yang dibuka dan antusiasme masyarakat terhadap aktivitas belanja offline mulai membaik. Namun, pertumbuhan ini tidak dirasakan merata di semua kategori ritel.

“Segmen hiburan, makanan, dan minuman justru mengalami lonjakan signifikan. Sementara kategori fashion, khususnya department store, masih tertekan,” imbuhnya.


Peritel Dituntut Bertransformasi

Alphonzus menyebut, daya beli segmen menengah bawah belum sepenuhnya pulih, sehingga turut menekan performa ritel fashion yang menyasar pasar tersebut.

Meski begitu, peluang tetap terbuka bagi peritel yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

Beberapa strategi yang disarankan antara lain menghadirkan pengalaman belanja personal dan interaktif, memanfaatkan teknologi, menyediakan layanan kustomisasi, serta menjalin kolaborasi dengan merek lokal dan komunitas.

“Fashion masih bisa tumbuh, tapi tidak lagi bisa mengandalkan pola lama. Mereka harus menjadi bagian dari gaya hidup pelanggan, bukan sekadar toko,” tutup Alphonzus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *