26 April 2026
AA1HZY2i.jpg



Dewa News


,


Jakarta


– Menteri Lingkungan Hidup

Hanif Faisol Nurofiq

menyatakan hanya 62 ekor

pesut

(

Orcaella brevirostris

) yang tersisa di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, pada saat ini. Populasi mamalia air tawar endemik ini terus tergerus pencemaran limbah

tambang

dan domestik, tabrakan kapal tongkang, serta praktik perikanan ilegal seperti penggunaan setrum dan bom ikan.

“Angka ini bukan sekadar data statistik, namun juga indikator kuat degradasi ekosistem yang memerlukan perhatian dan tindakan segera,” ujar Hanif dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 3 Juli 2025.

Menteri Hanif memastikan konservasi Pesut Mahakam sudah menjadi salah satu agenda prioritas nasional Kementerian Lingkungan Hidup. Menurut dia, spesies yang masuk dalam famili lumba-lumba ini harus dijaga dengan koordinasi lintas sektor, mulai dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, akademisi, masyarakat adat, serta lembaga swadaya masyarakat.

Pesut Mahakam adalah subpopulasi langka dari lumba-lumba Irrawaddy yang hanya hidup di Sungai Mahakam. Dengan tubuh berwarna abu-abu tanpa moncong, hewan yang memiliki perilaku sosial kompleks sudah lama menjadi simbol kekayaan alam dan identitas budaya masyarakat lokal Kalimantan Timur.

Satwa ini masuk dalam kategori

critically endangered

di daftar merah International Union for Conservation of Nature (

IUCN

). Pesat Mahakam juga ada dalam

Appendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora

—daftar spesies tumbuhan dan satwa liar paling terancam punah di dunia. Perdagangan spesies dalam daftar CITES flora dan fauna itu sangat dibatasi, bahkan dilarang total, kecuali untuk tujuan penelitian ilmiah.

Hanif menyebut pelestarian Pesut Mahakam bukan soal perlindungan satu jenis hewan. “Ini upaya vital untuk menjaga keseimbangan ekologis Sungai Mahakam yang menopang kehidupan ribuan spesies dan masyarakat lokal,” tutur Hanif yang baru berkunjung ke Desa Pela, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur pada Kamis, 3 Juli lalu.

Dalam kunjungan kerja itu, Hanif mengingatkan soal pentingnya perumusan kebijakan ihwal pelestarian, diikuti aksi nyata di lapangan. “Partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda, sangat krusial dalam menemukan solusi yang berkelanjutan,” katanya.

Dia berencana mengangkat empat pegiat lingkungan lokal yang dianggap memiliki kepedulian tinggi soal pelestarian Pesut Mahakam sebagai tenaga ahlinya. Mereka adalah Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela Alimin, Direktur Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) Budiono, peneliti RASI Danielle Kreb, serta Dosen Universitas Mulawarman Mislan.

“Nanti Menteri LH setiap hari ada di sini melalui tenaga-tenaga ahlinya. Semua perkembangan dilaporkan ke saya,” ucap Hanif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *