25 April 2026
InShot_20250404_192929369

Banjarbaru, Kalsel – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menyatakan kesiapannya untuk mengawal penanganan kasus pembunuhan jurnalis Juwita (23), yang diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI AL Balikpapan, Kelasi Satu berinisial J. Ketua DPRD Kota Banjarbaru, Gusti Rizky Sukma Iskandar Putera, menegaskan komitmen mereka untuk memastikan kasus ini diusut tuntas oleh penegak hukum.

“Kami siap mengawal penanganan kasusnya dan meminta penegak hukum menyelesaikan pengusutan hingga tuntas,” ujar Gusti Rizky Sukma Iskandar Putera di Banjarbaru, Jumat (5/4/2025).

Rizky mengungkapkan bahwa anggota DPRD Banjarbaru merasa kehilangan yang mendalam atas meninggalnya Juwita, yang dikenal akrab dan baik dengan narasumber di lingkungan dewan. Ia meminta Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Balikpapan untuk menyelidiki kasus ini secara transparan dan tuntas, agar seluruh elemen masyarakat mengetahui proses hukum yang berjalan.

“Kami meminta penanganan kasus tersebut transparan, tanpa ada yang ditutupi sehingga keluarga korban maupun masyarakat mengetahui, disamping berharap pelaku dihukum dengan seadil-adilnya,” ucapnya.

DPRD Kota Banjarbaru menghormati setiap proses hukum yang dilakukan oleh institusi dan aparat penegak hukum, dan akan terus berkoordinasi dengan Lanal Balikpapan maupun kepolisian untuk memantau perkembangan penanganan kasus ini.

Jurnalis Juwita ditemukan meninggal dunia di Gunung Kupang, Kelurahan Cempaka, Kota Banjarbaru, pada Sabtu (22/3) sekitar pukul 15.00 WITA. Awalnya, kematiannya diduga akibat kecelakaan tunggal, namun warga yang menemukan jenazahnya tidak melihat tanda-tanda kecelakaan lalu lintas. Luka lebam di leher korban dan dugaan hilangnya telepon seluler menimbulkan kecurigaan adanya tindak kekerasan.

Keluarga korban juga meminta penyidik Detasemen Polisi Militer Pangkalan TNI Angkatan Laut (Denpomal) Banjarmasin untuk mendalami temuan cairan putih dan luka lebam di area kemaluan korban. Mereka mendesak agar dilakukan uji laboratorium forensik ke Surabaya atau Jakarta, karena fasilitas uji tersebut belum tersedia di Kalsel.

“Volume cairan putih di area kemaluan cukup banyak, ada apa ini? Apakah mungkin pelaku lebih dari satu atau seperti apa, nanti penyidik yang mendalami dan mengungkap fakta ini,” ujar perwakilan keluarga korban, Pazri.

Pihak keluarga menginginkan agar segera dilakukan tes DNA ke laboratorium forensik di luar daerah untuk memperjelas kasus ini dan mengungkap motif sebenarnya dari pembunuhan tersebut.

Sumber: (ANTARA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *