25 April 2026
AA1CGb5l.jpg

Pertumbuhan Kredit BTN pada Tiga Bulan Pertama Tahun Ini

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit yang stabil selama tiga bulan pertama tahun ini. Meskipun demikian, terdapat pergeseran fokus bisnis yang memengaruhi komposisi kredit di berbagai sektor.

Dalam presentasi perusahaan, hingga Maret 2026, total outstanding kredit BTN mencapai Rp 400,6 triliun, meningkat sebesar 10,3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Berdasarkan segmentasinya, sektor korporasi menunjukkan pertumbuhan paling signifikan dengan outstanding kredit sebesar Rp 48 triliun, naik 51,9% yoy.

Kemudian, kredit konsumsi mengalami pertumbuhan sebesar 14,4% yoy menjadi Rp 8,5 triliun, sedangkan kredit komersial tumbuh 12,3% yoy menjadi Rp 9,1 triliun.

Meski begitu, kredit pemilikan rumah (KPR) masih menjadi dominasi dalam komposisi kredit BTN dengan nilai outstanding sebesar Rp 306,1 triliun, meningkat 6,8% yoy.

Penurunan Kredit Konstruksi

Di sisi lain, kredit konstruksi menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan penurunan. Nilai outstanding kredit konstruksi sebesar Rp 14,7 triliun, turun 9,3% yoy. Dalam materi presentasi disebutkan bahwa tren ini sejalan dengan penataan ulang portofolio bank di sektor tersebut.

“Bank kini fokus pada rumah tapak dan proyek perumahan bertingkat tinggi pilihan,” tulis dalam materi tersebut.

Selain itu, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di sektor konstruksi juga meningkat menjadi 17,4% dari posisi 14,5% pada periode yang sama tahun lalu. Namun, secara keseluruhan rasio NPL bank berhasil ditekan turun menjadi 3,1% dari 3,3% pada tahun lalu, didorong oleh penurunan NPL KPR menjadi 2,8% dari 3%.

Kenaikan Rasio NPL di Sektor Lain

Tidak hanya sektor konstruksi, kredit di sektor lain juga cenderung mencatatkan kenaikan rasio NPL. Rasio NPL kredit konsumer naik menjadi 1,3% dari 1,1%, kredit komersial naik menjadi 4,6% dari 4,4%, dan kredit korporasi naik menjadi 0,1% dari 0,0%.

Untuk diketahui, hingga akhir tahun nanti, BTN menargetkan rasio NPL bisa ditekan ke bawah 3% dan pertumbuhan kredit berada di rentang 8%–10%. Hal ini menunjukkan upaya bank untuk menjaga kualitas kredit sekaligus tetap mendorong pertumbuhan bisnis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *