26 April 2026
AA1YN34e.jpg



Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) Dony Oskaria mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan beberapa opsi untuk menyelesaikan masalah utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, yang dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC). Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pengambilalihan KCIC oleh Kementerian Keuangan. Namun, Dony menegaskan bahwa opsi ini belum final dan masih dalam proses evaluasi.

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, yang dimulai sejak 2016, telah menelan biaya total sebesar US$ 7,2 miliar atau setara dengan Rp 120 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp 16.707 per dolar Amerika Serikat. Biaya tersebut terdiri dari investasi awal sebesar US$ 6,02 miliar dan pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$ 1,21 miliar. Masalah utang ini menjadi salah satu isu utama yang harus diselesaikan agar proyek dapat berjalan lebih baik.

Dony Oskaria menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang mengevaluasi berbagai skema penyelesaian masalah ini. Ia menyampaikan hal ini dalam wawancara di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 7 April 2026. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan segera memberikan update mengenai opsi yang dipilih.

  • Pemerintah sedang mempertimbangkan beberapa alternatif untuk menyelesaikan masalah pada KCIC.
  • Opsi yang sedang dikaji meliputi pengambilalihan oleh Kementerian Keuangan.
  • Penyelesaian masalah ini direncanakan akan selesai dalam waktu satu hingga dua bulan.

Selain itu, Dony juga menyebutkan bahwa pihaknya sedang berupaya menyelesaikan masalah konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang terdiri dari beberapa perusahaan pelat merah seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya (WIKA), PT Jasa Marga, dan PT Perkebunan Nusantara I. Ia menegaskan bahwa semua masalah akan diselesaikan secara tuntas.

PT KCIC sendiri merupakan perusahaan patungan antara Indonesia dan Tiongkok. Indonesia melalui PT PSBI memiliki saham sebesar 60 persen, sementara Tiongkok melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd. memiliki saham sebesar 40 persen.

  • Konsorsium PSBI terdiri dari beberapa perusahaan pelat merah.
  • Proses penyelesaian masalah konsorsium sedang dilakukan.
  • Tujuan utamanya adalah menyelesaikan semua masalah secara tuntas.

Di samping itu, Dony juga menyampaikan rencana pemerintah untuk mengembalikan perusahaan-perusahaan pelat merah ke fokus bisnis utamanya. Hal ini bertujuan agar perusahaan tidak terbebani dengan proyek yang tidak sesuai dengan bidang usahanya. Contohnya, WIKA bukanlah perusahaan yang berfokus pada transportasi kereta api, sehingga pihaknya akan mengembalikan fokus bisnis perusahaan tersebut.

  • Pemerintah ingin mengembalikan perusahaan pelat merah ke fokus bisnis utamanya.
  • Contohnya, WIKA akan kembali fokus pada kontraktor.
  • Proses penyelesaian ini akan dilakukan secara bertahap.

Dengan langkah-langkah ini, Dony meyakini bahwa masalah kerugian yang dialami perusahaan pelat merah akibat terlibat dalam proyek Whoosh tidak lagi terjadi. Ia menegaskan bahwa pihaknya ingin semua proyek yang dikerjakan benar-benar tuntas dan tidak ada masalah yang tertinggal.

  • Tujuan utamanya adalah menyelesaikan semua masalah secara tuntas.
  • Tidak ada masalah yang tertinggal.
  • Semua proyek yang dikerjakan harus benar-benar selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *