25 April 2026
Dewa-News-Online_20240112_231651_0000-PhotoRoom.png-PhotoRoom-e1734265145653

Ekspansi TPIA dengan Akuisisi SPBU Esso di Singapura

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) telah menyelesaikan akuisisi jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat posisi di segmen bisnis hilir energi, khususnya dalam pengembangan infrastruktur energi terintegrasi di kawasan Asia Tenggara.

Transaksi ini dilakukan setelah seluruh persetujuan regulasi dan ketentuan penutupan transaksi terpenuhi. Akuisisi ini dilakukan melalui special purpose vehicle (SPV) yang berada di bawah anak usaha sepenuhnya dimiliki oleh Chandra Asri Group. Dengan demikian, TPIA tidak hanya memperluas cakupan operasionalnya, tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar energi regional.

Sebelumnya, pada 24 Oktober 2025, TPIA telah mengumumkan penandatanganan perjanjian jual beli untuk mengakuisisi jaringan SPBU ritel Esso di Singapura. Selama proses operasional, merek Esso akan tetap digunakan, serta pembelian bahan bakar bermerek dari ExxonMobil akan dilanjutkan. Program loyalitas pelanggan, termasuk poin dan kartu keanggotaan, tetap berlaku tanpa perubahan. Seluruh karyawan ExxonMobil yang sebelumnya menjalankan operasional bisnis SPBU tersebut juga akan tetap dipertahankan.

Analisis Pasar dan Proyeksi Kinerja

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai bahwa akuisisi SPBU Esso akan mendukung pengembangan bisnis hilir TPIA dengan skema business to consumer (B2C) serta menghasilkan pendapatan berulang (recurring income). Meski demikian, ia menilai kontribusi pendapatan dari bisnis SPBU belum akan menyamai lini utama TPIA seperti petrokimia. “Fungsi SPBU Esso pada tahun ini lebih untuk menyeimbangkan margin di tengah volatilitas harga petrokimia,” ujar Wafi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa akuisisi SPBU Esso belum tentu langsung mendorong pertumbuhan signifikan pada kinerja pendapatan maupun laba TPIA. Menurutnya, peningkatan kinerja tetap bergantung pada kemampuan perusahaan dalam meningkatkan volume penjualan secara keseluruhan. “Bisnis SPBU Esso memiliki margin yang relatif tipis, namun ditopang oleh tingkat perputaran yang tinggi serta sifat pendapatan yang berulang,” jelas Nafan.

Dari sisi operasional, akuisisi ini diproyeksikan mengoptimalkan rantai pasok sekaligus memperkuat segmen hilir energi TPIA di Singapura yang dijalankan melalui Aster, perusahaan patungan TPIA dengan Glencore.

Proyeksi Tahun 2026 dan Strategi Ekspansi

Wafi memperkirakan 2026 akan menjadi tahun yang positif bagi TPIA seiring konsolidasi berbagai aset yang diakuisisi sejak tahun lalu. Segmen refinery diperkirakan tetap menjadi kontributor pendapatan terbesar, sejalan dengan peningkatan kapasitas produksi. Namun, optimalisasi laba masih akan bergantung pada pemulihan spread margin bisnis kimia regional yang diperkirakan membaik seiring pulihnya permintaan dari China dan Asia Tenggara.

TPIA juga diperkirakan tetap agresif melakukan ekspansi, baik secara organik maupun anorganik, pada 2026. Perusahaan masih membidik aset infrastruktur pendukung maupun energi terbarukan untuk melengkapi ekosistem bisnisnya. Tantangan utama yang perlu diantisipasi adalah risiko integrasi aset serta pengelolaan utang.

Atas dasar tersebut, Wafi tetap merekomendasikan beli saham TPIA dengan target harga Rp9.500 per saham. Meski valuasinya dinilai sudah relatif tinggi, saham TPIA masih menarik untuk strategi perdagangan jangka pendek.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *