Penelitian Menemukan Mikroplastik dalam Air Hujan Kota Surabaya
Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah lembaga dan komunitas di Kota Surabaya menunjukkan bahwa air hujan di kota tersebut mengandung partikel mikroplastik. Temuan ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton).
Koordinator Penelitian Mikroplastik Kota Surabaya, Alaika Rahmatullah menjelaskan bahwa Kota Surabaya menduduki posisi keenam dari 18 kota di Indonesia yang memiliki kandungan partikel mikroplastik di udara. Tingkat kontaminasi mencapai 12 partikel/90 cm²/2 jam.
“Tingginya tingkat pencemaran mikroplastik dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Contohnya, wilayah Pakis Gelora menunjukkan kadar mikroplastik yang tinggi karena adanya aktivitas pembakaran sampah dan lokasinya yang dekat dengan pasar serta jalan raya,” ujar Alaika pada Senin (17/11/2025).
Riset tersebut dilakukan pada tanggal 11-14 November 2025 di beberapa titik di Kota Surabaya, seperti Dharmawangsa, Ketintang, Gunung Anyar, Wonokromo, HR Muhammad, Tanjung Perak, dan Pakis Gelora.

Grafik kandungan mikroplastik dalam air hujan di sejumlah wilayah di Kota Surabaya, yang ditemukan usai penelitian oleh Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton)./Dok. Ecoton
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menempatkan wadah aluminium, stainless steel, dan mangkok kaca dengan diameter 20-30 cm pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1 hingga 2 jam.
“Dari grafik menunjukkan bahwa lokasi paling tercemar mikroplastik adalah daerah Pakis Gelora, yakni sebanyak 356 partikel Mikroplastik(PM)/Liter, disusul dengan wilayah Tanjung Perak pada posisi kedua dengan 309PM/L,” ungkap Alaika.
Lebih lanjut, Peneliti Ecoton, Sofi Azilan menyampaikan bahwa jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan dalam air hujan di Surabaya adalah fiber. Selain itu, juga ditemukan mikroplastik berjenis filamen.
“Membakar sampah plastik akan menghasilkan jenis mikroplastik fiber. Dari riset sebelumnya yang dilakukan di lokasi dekat tungku pembakaran sampah di Sidoarjo menunjukkan jenis fiber mendominasi mikroplastik di udara sekitar daerah pembakaran sampah,” ucap Sofi.
Menurutnya, sumber mikroplastik paling banyak berasal dari pembakaran sampah plastik, gesekan antara ban kendaraan bermotor dengan aspal jalan raya, kegiatan laundri atau mencuci dan menjemur pakaian, timbunan sampah plastik, polusi industri, serta asap kendaraan bermotor.
Sementara itu, peneliti dari Komunitas Growgreen, Shofiyah menegaskan bahwa temuan mikroplastik pada air hujan tersebut harus menjadi peringatan bagi warga Kota Surabaya untuk mengubah kebiasaan yang merugikan lingkungan.
“Ini harus menjadi warning untuk tidak membakar sampah terbuka, membuang sampah ke sungai, dan konsumsi plastik sekali pakai berlebihan,” tegasnya.
Ia juga mengimbau agar warga tidak membuka mulut saat hujan turun, apalagi menelan air hujan yang menetes demi mencegah tubuh terkontaminasi partikel mikroplastik yang sangat berbahaya.
“Semua lokasi penelitian tercemar mikroplastik. Kondisi ini mengkhawatirkan dan akan jadi ancaman serius bagi kesehatan warga,” terangnya.
Terakhir, pihaknya memberikan beberapa rekomendasi, seperti perlu dilakukannya uji kandungan mikroplastik secara rutin terhadap udara Kota Surabaya, publikasi atau sanksi sosial berupa pemasangan foto warga yang membakar dan membuang sampah plastik ke sungai atau pesisir, hingga melarang penggunaan plastik sekali pakai.
“Faktor lain penyumbang mikroplastik dalam air hujan Kota Surabaya berasal dari pencemaran plastik air laut. Dalam proses siklus air, air laut terevaporasi menjadi uap air dan terkondesasi menjadi awan. Jadi, semakin tinggi tingkat polusi plastik atau mikroplastik dalam air laut, maka akan berdampak pada tingginya tingkat pencemaran mikroplastik dalam air hujan,” pungkasnya.