Penolakan terhadap Belém 4x Pledge oleh Greenpeace dan Organisasi Lainnya
Greenpeace bersama lebih dari 1.900 organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Climate Action Network (CAN) menyatakan penolakan terhadap Belém 4x Pledge, sebuah komitmen untuk melipatgandakan produksi bahan bakar yang berkelanjutan hingga empat kali lipat pada 2035. Termasuk di dalamnya adalah biofuel atau BBM hijau. Kepala Kampanye Solusi untuk Hutan Global Greenpeace, Syahrul Fitra, menegaskan bahwa peningkatan produksi biofuel akan semakin mengancam wilayah dan masyarakat adat, selain memperparah potensi kebakaran hutan dan lahan gambut.
“Tanpa Belém 4x Pledge pun, pemerintah Indonesia sudah berniat mengorbankan hutan dan Masyarakat Adat demi memuluskan proyek biodiesel dan bioetanol yang jelas-jelas solusi iklim palsu,” kata Syahrul melalui keterangan tertulis Justice Coalition for Our Planet (Justcop), 15 November 2025.
Salah satu proyek bioetanol yang menjadi perhatian adalah di Merauke, Papua Selatan. Bioetanol akan diproduksi dari perkebunan tebu. Yayasan Pusaka Bentala Rakyat mencatat bahwa pembukaan perkebunan tebu Merauke telah membabat seluruhnya 4.912 hektare hutan adat Suku Yei hingga Agustus 2025.

Bukaan lahan tebu di Distrik Tanah Miring, Papua Selatan, 4 September 2024. TEMPO/George William Piri
Secara keseluruhan, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan menargetkan pembukaan lahan seluas 633 ribu hektare untuk dijadikan perkebunan tebu di Papua Selatan. Sedangkan 382.759 hektare hutan di Mappi dan Boven Digoel, juga di Papua Selatan, dialihfungsikan sebagai perkebunan kelapa sawit yang menjadi sumber produksi biodiesel.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Refki Saputra, menambahkan bahwa konversi dari lanskap hutan tersebut akan melepaskan emisi setara 162 juta ton gas karbondioksida (CO₂) ke atmosfer. Emisi tersebut akan menambahkan yang 221 juta ton CO₂ dari pembukaan lahan seluas 560 ribu hektare di Kalimantan untuk Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet).
Refki mengingatkan, pembukaan lahan secara besar-besaran demi ambisi transisi energi kontradiktif dengan target iklim yang digaungkan pemerintah dalam COP 30. “Target itu mustahil tercapai bila perampasan hutan terus terjadi,” katanya.
Senior Partnerships and Outreach Officer Asia di Oil Change International, Hikmat Soeratanuwijaya, juga menilai ikrar Belem 4x Pledge menggunakan bahasa keberlanjutan untuk membenarkan penggunaan bahan bakar fosil. Ditegaskannya, janji tersebut berkebalikan dengan gagasan akan transisi energi berkeadilan di mana perlindungan hutan dan masyarakat adat harus menjadi subjek mitigasi tertinggi dalam transisi energi berkeadilan.
“Ambisi biofuel tak akan tercapai bila hutan terus dieksploitasi,” kata Hikmat yang organisasinya juga tergabung dalam CAN. Belem 4x Pledge, kata dia, akhirnya tak hanya mengorbankan hutan. “Rencana itu juga akan merusak ekosistem, mengubah bentang alam dan menyebabkan bencana lingkungan di banyak tempat, termasuk menenggelamkan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.”
Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia Mufti Fathul Barri mengingatkan pulau-pulau kecil memiliki daya tampung yang terbatas. Bahkan sebelum proyek-proyek industri tak berkeadilan merangsek, pulau-pulau kecil telah sejak semula rentan terdampak krisis iklim. “Menenggelamkan pesisir dan pulau-pulau kecil sama saja menghilangkan manusia yang hidup di dalamnya,” kata Mufti.
Direktur Auriga Nusantara, Timer Manurung, mendesak pemerintah Indonesia lekas mengambil langkah korektif dalam kebijakan transisi energi. Caranya, menerbitkan regulasi yang memastikan seluruh hutan alam tersisa sebagai area dan ekosistem dilindungi. “Agar gagasan-gagasan yang tampak bagus seperti ini tidak jadi musang berbulu domba,” tuturnya.
Komitmen Belem untuk Bahan Bakar Berkelanjutan adalah inisiatif tuan rumah COP 30 yang tengah bergulir 10-21 November 2025, yakni Brasil. Komitmen itu merujuk kepada jenis bahan bakar hidrogen, biogas, biofuel, dan e-fuel. Adapun dasarnya adalah laporan International Energy Agency (IEA) yang mendorong 4 kali lipat produksi jenis-jenis bahan bakar itu pada 2035, termasuk melipatgandakan produksi biofuel.
Brasil telah mengumumkan inisiatif untuk komitmen tersebut sejak Pra-COP bulan lalu. Beberapa negara yang mendukungnya seperti Italia, Jepang, dan India.