26 April 2026
AA1Py4qX.jpg

Peringatan Ketua The Fed tentang Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

Di tengah ketidakpastian yang meningkat, Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memberikan peringatan kepada investor untuk tidak terlalu berharap pada pemangkasan suku bunga di bulan Desember. Peringatan ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara para pembuat kebijakan bank sentral AS mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan inflasi.

Menurut laporan dari Bloomberg, Powell menyatakan bahwa sebagian pejabat kini lebih khawatir terhadap melambatnya pasar tenaga kerja, sementara yang lain masih memperhatikan inflasi yang tinggi sebagai ancaman bagi pelonggaran moneter. Situasi ini semakin diperparah oleh penghentian sementara rilis data ekonomi resmi akibat penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown).

Keputusan FOMC untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4% merupakan langkah kedua dalam rangkaian penurunan suku bunga. Namun, kali ini terjadi perbedaan pandangan di antara anggota FOMC, dengan satu pejabat mendukung penurunan lebih besar, sedangkan yang lain memilih tetap mempertahankan suku bunga.

Pernyataan Powell setelah pertemuan FOMC menegaskan bahwa keputusan untuk menurunkan suku bunga lagi pada Desember belum pasti. Ia bahkan menyebut bahwa hal tersebut jauh dari kepastian. Powell menambahkan bahwa mungkin akan lebih baik untuk menunggu satu siklus lagi sebelum melangkah lebih jauh.

Reaksi pasar langsung terjadi setelah pernyataan Powell. Harga obligasi pemerintah AS (Treasury) anjlok tajam, sehingga imbal hasil obligasi 10 tahun kembali melebihi 4%. Namun, beberapa koreksi kemudian terjadi.

Kontrak berjangka yang terkait dengan suku bunga acuan The Fed menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan 9–10 Desember hanya moderat, turun dari tingkat yang sebelumnya hampir pasti. Pooja Sriram, ekonom Barclays, menyatakan bahwa mereka tidak menyangka akan ada penolakan sekuat ini, dan diskusi mengenai Desember menjadi sangat intens.

Sebelumnya, The Fed telah melakukan pemangkasan suku bunga pertama kalinya pada tahun ini dalam pertemuan September, setelah perlambatan perekrutan tenaga kerja memicu kekhawatiran terhadap pasar kerja. Namun, sejumlah pejabat tetap berhati-hati dalam menurunkan suku bunga secara agresif.

Proyeksi pasca-pertemuan menunjukkan bahwa 9 dari 19 anggota FOMC memperkirakan tidak lebih dari satu pemangkasan tambahan tahun ini. Beberapa pejabat bahkan menilai tidak perlu pelonggaran lebih lanjut hingga 2025.

Pemungutan suara Rabu lalu juga menjadi yang ketiga berturut-turut terdapat perbedaan pandangan di antara anggota FOMC, sebuah tren yang terakhir terjadi pada 2019. Perpecahan ini terjadi di tengah situasi sulit akibat penutupan pemerintahan AS sejak awal Oktober. Tanpa data resmi dari pemerintah, ekonom dan pembuat kebijakan kini mengandalkan indikator sektor swasta dan tingkat negara bagian untuk memantau tren ketenagakerjaan.

Pandangan Powell dan Tantangan di Masa Depan

Powell menunjukkan posisinya dalam perdebatan antara inflasi dan lapangan kerja. Ia meremehkan kekhawatiran atas tekanan harga dan menilai bahwa The Fed tetap memiliki peran untuk merespons pelemahan pasar tenaga kerja, meski sebagian dipicu kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump.

Ia menyatakan bahwa sebagian orang berpendapat bahwa masalah ini bersumber dari sisi pasokan, sehingga tidak bisa banyak dipengaruhi oleh kebijakan moneter. Namun, ia berpendapat bahwa ada faktor permintaan yang bisa ditangani, dan The Fed sebaiknya menggunakan instrumennya untuk mendukung pasar tenaga kerja.

Jika kehati-hatian Powell berujung pada penghentian sementara siklus pemangkasan suku bunga, langkah tersebut hampir pasti akan memanaskan hubungan dengan Gedung Putih. Presiden Trump selama ini sering mengkritik Powell karena dianggap terlalu lambat menurunkan suku bunga, memicu kekhawatiran akan independensi bank sentral.

Joe Brusuelas, kepala ekonom di RSM US LLP, memperkirakan bahwa perbedaan pandangan akan menjadi hal yang lumrah dalam pertemuan FOMC mendatang, terutama setelah pergantian anggota pemilih pada 2026 dan penunjukan pengganti Powell yang masa jabatannya berakhir Mei tahun itu.

Ia menegaskan bahwa ke depan, perbedaan pandangan akan semakin banyak — baik karena tekanan politik dari Gedung Putih untuk melunakkan kebijakan, maupun karena ketidaksepakatan substansial mengenai risiko inflasi dan arah kebijakan moneter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *