25 April 2026
AA1UUL53.jpg

Pendekatan Arab Saudi dalam Pengembangan Sepak Bola



Pendekatan Arab Saudi dalam mendirikan Dana Investasi Publik (PIF) untuk sepak bola menarik perhatian banyak pihak, termasuk para ahli sepak bola dari Vietnam. Menurut dua pakar sepak bola asal Vietnam, Quang Tung dan Long Vu, model yang digunakan oleh Arab Saudi layak menjadi contoh yang ditiru oleh sepak bola Vietnam.

Menurut mereka, PIF yang dibentuk oleh Arab Saudi bukan hanya sekadar tentang dana, tetapi juga tentang visi, model investasi, dan stabilitas sumber daya. Dalam wawancara dengan media lokal, Quang Tung menyatakan bahwa jika sepak bola Vietnam ingin membuat kemajuan signifikan, hal itu tidak bisa hanya mengandalkan upaya spontan individu atau bisnis perorangan.

“Masalah intinya adalah sumber daya investasi,” ujarnya. “Setiap orang memiliki ambisi, tetapi sumber daya investasi harus stabil untuk menciptakan dorongan bagi pengembangan seluruh sistem sepak bola.”

Long Vu menambahkan bahwa model yang dapat dipelajari oleh sepak bola Vietnam tidak hanya berasal dari Arab Saudi, tetapi juga dari liga olahraga profesional lainnya seperti NBA. Ia mencontohkan bagaimana NBA memiliki model investasi terkonsentrasi yang bisa menjadi inspirasi.

“Sepak bola benar-benar dapat belajar dari ini, karena yang terpenting adalah bagaimana mengatur dan mempertahankan aliran modal investasi jangka panjang,” kata Long Vu.

Investasi Besar-Besaran dan Daya Tarik

Arab Saudi telah memutuskan untuk menginvestasikan sumber daya secara besar-besaran melalui PIF meski sudah berada di level tinggi dalam sepak bola Asia. Menurut Quang Tung, inilah yang menciptakan daya tarik untuk menarik bintang-bintang top dunia, sekaligus melayani tujuan jangka panjang seperti menyelenggarakan turnamen besar.

“Tanpa sumber daya investasi yang cukup, akan sangat sulit untuk menciptakan daya tarik dan meningkatkan level liga,” ungkapnya.

Selain aspek sumber daya dan finansial, kedua pakar tersebut juga menekankan pentingnya infrastruktur. Vietnam telah merencanakan pembangunan stadion terbesar di dunia dengan kapasitas 135.000 penonton, yakni Stadion Trong Dong.

Stadion tersebut terletak di kawasan kompleks olahraga Olimpiade di Hanoi dan diperkirakan akan selesai pada Agustus 2028. Proyek ini diinvestasikan oleh Vingroup dengan total biaya mencapai 925.000 miliar VND (Rp587,6 triliun).

Infrastruktur sebagai Fondasi Olahraga

Dimulainya proyek olahraga berskala besar di Vietnam, termasuk pembangunan Stadion Trong Dong, dipandang sebagai pertanda positif. Menurut Long Vu, ini bukan hanya infrastruktur yang melayani sepak bola, tetapi juga fondasi untuk menyelenggarakan acara dan hiburan, sehingga menciptakan pendapatan tambahan dan nilai tambah bagi olahraga.

Quang Tung menyatakan optimisme dengan mengatakan bahwa jika proyek-proyek ini dioperasikan sesuai jadwal, Hanoi dan Ho Chi Minh City benar-benar dapat menjadi pusat regional utama untuk menyelenggarakan acara olahraga.

“Dengan infrastruktur yang sudah tersedia, kita kemudian dapat mempertimbangkan untuk menyelenggarakan turnamen tingkat Asia seperti Asian Games atau Piala Asia,” katanya.

Pembelajaran dari Pengalaman Qatar

Dari diskusi infrastruktur, kedua pakar Vietnam itu juga menarik paralel dengan pengalaman Qatar dalam menyelenggarakan Piala Dunia. Qatar memanfaatkan keunggulan geografisnya dan memusatkan sumber daya untuk mengoptimalkan penyelenggaraannya.

Sebaliknya, Piala Dunia 2026, yang tersebar di tiga negara Amerika Utara, akan menghadirkan tantangan yang sama sekali berbeda. Perbandingan ini, menurut Long Vu, menunjukkan bahwa menyelenggarakan acara besar tidak hanya membutuhkan uang tetapi juga visi strategis dan koordinasi keseluruhan.

Pesan Penting untuk Sepak Bola Vietnam

Singkatnya, dari model Arab Saudi dan NBA hingga kisah Qatar, ada satu pesan yang ditekankan oleh Quang Tung dan Long Vu. Pesan itu adalah sepak bola Vietnam membutuhkan model investasi yang sistematis dan stabil dengan dukungan kebijakan yang kuat untuk mencapai terobosan.

Hanya ketika sumber daya diorganisir secara baik dan dalam jangka panjang, mereka menilai ambisi besar akan berpotensi untuk menjadi kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *