Kehilangan Pamor Indonesia di Pasar Modal Global
Indonesia berpotensi kehilangan pamornya di antara negara-negara pasar berkembang (emerging market) setelah indeks global FTSE Russell menunda review terhadap indeks Tanah Air. Hal ini memicu reaksi dari para analis dan pelaku pasar, yang mengkhawatirkan dampak jangka pendek terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, pelaku pasar cenderung bersikap menunggu arah kebijakan FTSE Russell. Meski demikian, keputusan tersebut berpotensi menekan pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
“Respon pasar cenderung netral, wait and see. Ada risiko relokasi dana ke emerging market lain seperti India atau Vietnam,” ujar Wafi. Ia memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlangsung hingga FTSE Russell mengumumkan hasil peninjauan kuartalan pada 22 Mei 2026.
Dalam periode tersebut, IHSG diperkirakan bergerak volatil dengan kecenderungan sideways sembari menunggu langkah penanganan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO). Wafi menilai bahwa situasi ini menjadi “wake up call” agar pihak terkait meningkatkan standar tata kelola pasar modal.
Perhatian dari Lembaga Internasional
Liza Camelia, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, juga menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, perbaikan sentimen pasar hanya dapat terjadi jika OJK dan SRO mampu menyelesaikan persoalan fundamental yang disoroti lembaga internasional.
Ia menjelaskan bahwa setidaknya enam institusi keuangan global seperti MSCI, Goldman Sachs, UBS, Nomura, Moody’s, dan FTSE Russell telah menyoroti pasar modal Indonesia memasuki 2026. Dalam jangka pendek, fluktuasi pasar diperkirakan tetap tinggi, sementara tekanan jual investor asing baru akan mereda setelah ada kepastian dan hasil konkret dari pemerintah.
“Dalam jangka pendek, fluktuasi pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan volatil. Intensitas net sell asing kemungkinan besar baru akan melandai setelah adanya kepastian serta hasil konkret dari pemerintah dalam menanggapi isu penurunan rating,” kata Liza.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian
Meski demikian, Liza menilai tekanan jual yang masif secara historis kerap menciptakan anomali harga, yang dapat dimanfaatkan sebagai momentum strategi buy on weakness, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang telah terdiskon. Namun, ia mengingatkan bahwa saham jumbo kerap menjadi sumber likuiditas keluar bagi investor global, sehingga investor disarankan memilih sektor defensif dengan fundamental kuat.
Langkah Pemerintah dan OJK
Sebelumnya, FTSE Russell menyampaikan bahwa OJK telah menggelar konferensi pers untuk menyatakan komitmen peningkatan integritas dan transparansi pasar modal Indonesia. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah menerbitkan rencana reformasi pasar modal pada 5 Februari 2026.
“Menindaklanjuti masukan dari External Advisory Committees FTSE Russell, serta dengan mempertimbangkan potensi dampak negatif terhadap turnover dan ketidakpastian dalam menentukan persentase free float yang akurat atas sekuritas Indonesia seiring dengan berlangsungnya rencana reformasi tersebut, FTSE Russell akan menunda peninjauan indeks Indonesia yang dijadwalkan pada Maret 2026,” tulis FTSE Russell.
Keputusan tersebut diambil berdasarkan Aturan 2.4 tentang Exceptional Market Disruption dalam Kebijakan Indeks. Dengan penundaan ini, FTSE Russell untuk sementara tidak akan mengimplementasikan penambahan maupun penghapusan saham Indonesia dalam indeks, termasuk perubahan segmen kapitalisasi dan penyesuaian bobot investability, hingga proses reformasi dinilai lebih jelas.
Kesimpulan
Kondisi pasar modal Indonesia saat ini menunjukkan tantangan yang signifikan, namun juga memberikan peluang bagi investor yang mampu membaca situasi dengan tepat. Dengan penundaan review oleh FTSE Russell, pelaku pasar harus lebih waspada dan siap menghadapi volatilitas yang mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan.