19 April 2026
AA20VFd0.jpg



Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk menjaga ketersediaan bahan baku, termasuk plastik, yang menjadi komponen penting dalam berbagai sektor industri. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya penyesuaian harga bahan baku agar dapat mendukung keberlanjutan industri kecil dan menengah (IKM) di tengah tekanan kenaikan harga global.

Agus mengungkapkan bahwa pemerintah akan melakukan pendekatan langsung kepada produsen plastik agar mereka bersedia menurunkan margin harga. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa IKM tidak terbebani oleh kenaikan harga bahan baku yang semakin tinggi. Ia menegaskan bahwa upaya ini bertujuan untuk menjaga pengembangan industri kecil di Indonesia.

“Kami akan melakukan pendekatan dengan para produsen, khususnya untuk melayani industri kecil. Tujuannya adalah agar mereka bisa mengurangi marjin, sehingga harga yang dikenakan pada industri kecil tidak akan memberatkan,” ujar Agus usai menghadiri acara pameran Indo Intertex Inatex 2026 di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Selain dari sisi harga, pemerintah juga memastikan pasokan bahan baku tetap stabil. Agus menyebut bahwa pihaknya sedang mencari alternatif sumber bahan baku untuk mengantisipasi keterbatasan pasokan global. Koordinasi dengan para pemasok plastik terus dilakukan, termasuk untuk membuka peluang penyesuaian margin harga.

Di sisi lain, Agus mengakui tantangan dalam pengadaan bahan baku seperti nafta semakin kompleks karena sebagian besar pasokan masih bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Meski demikian, pemerintah membuka peluang kerja sama dengan negara-negara lain guna diversifikasi sumber pasokan. “Kalian lihat siapa saja produsen nafta, itu potensi dari calon supplier kita,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kelangkaan plastik dan nafta tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga secara global. Kondisi ini memicu persaingan antarnegara dan pelaku usaha dalam mengamankan pasokan bahan baku. Karena itu, Agus mendorong pelaku industri untuk lebih adaptif dalam menyusun rencana pengadaan bahan baku. “Kalau ada ketersediaan plastik di luar negeri, ambil saja,” ujarnya.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan harga plastik dapat melonjak hingga 70% akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam mengatakan, dampak konflik tersebut telah dirasakan lintas sektor industri, terutama yang bergantung pada bahan baku impor seperti nafta dan gas.

Padahal, produk turunan nafta seperti plastik merupakan komponen penting dalam berbagai aktivitas produksi. Menurut Bob, gangguan rantai pasok global berpotensi menghambat operasional industri, bahkan memicu penghentian produksi pada Mei jika pasokan bahan baku tidak segera pulih. Ia menambahkan, sektor makanan dan minuman menjadi salah satu yang paling rentan terdampak karena ketergantungannya terhadap plastik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *