22 April 2026
AA20VClm.jpg



Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjaga stabilitas pasokan plastik agar tidak memberatkan industri kecil dan menengah (IKM) di tengah ancaman kelangkaan bahan baku global. Ia menyatakan bahwa masalah utama dalam ketersediaan bahan baku saat ini tidak hanya terkait dengan pasokan, tetapi juga harga. Untuk mengurangi beban biaya bagi pelaku IKM, pemerintah akan mengambil langkah-langkah strategis.

Agus Gumiwang menekankan bahwa pemerintah akan memastikan ketersediaan plastik sambil melakukan pendekatan terhadap produsen agar dapat menyesuaikan margin keuntungan, terutama dalam memenuhi kebutuhan industri kecil. Ia menyampaikan bahwa pihaknya akan berupaya agar harga yang dikenakan kepada industri kecil tidak menghambat pengembangan mereka.

“Berkaitan dengan plastik, saya akan melakukan pendekatan dengan para produsen, khususnya untuk melayani industri-industri kecil, agar produsen bisa mengurangi margin. Lalu, berkaitan dengan pricing yang akan dikenakan pada industri kecil, itu tidak akan membebani pengembangan industri kecil yang ada di Indonesia,” ujar Agus Gumiwang dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu, 15 April 2026.

Selain menjaga harga, pemerintah juga terus mencari alternatif sumber pasokan untuk memastikan keberlanjutan produksi industri nasional. Menperin menyatakan bahwa pemerintah akan terus mencari substitusi yang sesuai, serta melakukan koordinasi dengan supplier plastik, khususnya untuk industri kecil dan sektor lainnya.

“Jadi suplai, berkaitan dengan kuantitas, pemerintah akan terus-menerus mencari subtitusinya seperti apa, tapi kami akan melakukan koordinasi kepada supplier dari plastik itu, khususnya untuk industri kecil dan industri-industri lain, kalau mungkin masih ada space-nya untuk mengurangi margin,” tambah Agus Gumiwang.

Terkait bahan baku plastik, nafta yang sebagian besar masih bergantung pada impor dari Timur Tengah, ia menyampaikan bahwa pemerintah sedang menjajaki peluang kerja sama dengan negara-negara lain sebagai sumber alternatif pasokan. Menperin menilai bahwa calon mitra potensial dapat dilihat dari negara-negara produsen nafta global yang memiliki kapasitas untuk memasok kebutuhan Indonesia.

Menperin menekankan bahwa kelangkaan bahan baku, seperti nafta, bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga menjadi isu global yang memicu persaingan antarnegara dalam mendapatkan pasokan. Ia menyatakan bahwa kompetisi tersebut terjadi di tingkat dunia, termasuk di antara pelaku usaha.

“Kita harus bisa memahami juga bahwa bukan hanya Indonesia yang menghadapi scarcity dari plastik, nafta, tapi seluruh dunia. Nah itu maka ada kompetisi tersendiri bagi negara-negara, bagi pelaku usaha untuk mendapatkan suplai dari plastik tersebut,” tutur Agus Gumiwang.

Ia pun mendorong pelaku industri untuk lebih adaptif dalam menyusun strategi pengadaan bahan baku, termasuk memanfaatkan peluang pasokan yang tersedia di pasar internasional. “Jadi perusahaan-perusahaan harus bisa merumuskan rencana kerja berkaitan dengan plastik. Kalau ada ketersediaan plastik yang dijual di luar negeri, ambil aja,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengungkapkan bahwa sebagian pelaku industri telah memperoleh pasokan dari Malaysia. “Dari anggota kita yang saya dengar, mereka sudah mendapatkan sebagian kecil dari Petronas, Malaysia,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *