Permintaan Lotte Chemical Indonesia kepada Pemerintah
PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) mengajukan permintaan kepada pemerintah untuk menurunkan tarif bea masuk liquefied petroleum gas (LPG) menjadi 0% untuk kebutuhan bahan baku industri. Hal ini dilakukan karena saat ini, pasokan bahan baku terbatas akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Lee Dae Lo, Corporate Planning General Manager Lotte Chemical Indonesia, menjelaskan bahwa saat ini tarif impor LPG di Indonesia berada pada tingkat 5%. Sementara itu, negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand tidak mengenakan biaya impor LPG dari luar negeri.
“Untuk meningkatkan daya saing industri Indonesia, kami berharap tarif impor LPG sebagai bahan baku bisa menjadi 0%,” ujarnya dalam acara LCI Media Gathering 2026 di Jakarta, Selasa (14/8/2026).
Selain LPG, LCI juga menyoroti pentingnya pasokan nafta sebagai bahan baku utama industri petrokimia. Lee menyatakan bahwa pihaknya berharap pemerintah dapat memastikan ketersediaan nafta bagi pelaku industri dalam negeri.
Dia merespons wacana pemerintah yang akan melakukan pembelian nafta secara langsung. Menurutnya, apabila pemerintah dapat menyalurkan pasokan tersebut kepada industri seperti LCI, hal itu akan menjadi langkah positif.
“Kami berharap pemerintah Indonesia dapat menyuplai nafta kepada LCI, tentu kami akan sangat terbantu dan senang untuk menggunakannya,” katanya.
Lee menegaskan bahwa dukungan kebijakan, baik dari sisi tarif maupun ketersediaan bahan baku, menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan investasi dan operasional industri petrokimia di Indonesia.
Di tengah tekanan geopolitik global dan fluktuasi harga energi, kepastian pasokan serta efisiensi biaya dinilai menjadi kunci agar industri dalam negeri tetap kompetitif, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.
Permintaan Tambahan dari Direktur Management Support
Cho Jin-Woo, Direktur Management Support PT Lotte Chemical Indonesia, juga menyampaikan beberapa harapan kepada pemerintah. Pertama, ia berharap pemerintah melakukan penyederhanaan regulasi untuk mempercepat proses impor bahan baku. Kedua, bantuan fiskal sementara untuk mengimbangi lonjakan eksponensial dalam krisis rantai pasokan global ini.
Cho juga menegaskan bahwa bantuan tersebut akan memberikan keamanan yang sangat penting, tidak hanya untuk situasi saat ini tetapi juga untuk industri domestik yang lebih luas di masa depan.
“Kami berharap pemerintah dapat membantu memastikan ketersediaan energi dan dukungan kebijakan yang tepat sasaran agar aktivitas produksi kami tetap berlanjut dan memberikan dampak positif bagi program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah,” tambahnya.
Prioritas Pasar Domestik
Cho menerangkan bahwa LCI memprioritaskan alokasi persediaan produk dan kapasitas produksi yang tersedia saat ini sebagian besar untuk pasar domestik Indonesia. Distribusi pasokan dilakukan secara terukur guna menjaga stabilitas industri hilir nasional.
“LCI terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan, sekaligus mendukung stabilitas sektor manufaktur nasional,” sebutnya.