19 April 2026
AA20Q2db.jpg

Kebijakan Work From Home (WFH) yang Diterapkan Pemerintah

Pemerintah telah resmi menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap Jumat mulai April 2026. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk melakukan transformasi budaya kerja, meningkatkan efisiensi energi, serta mempercepat adaptasi teknologi dalam sistem pemerintahan. Namun, penting untuk dicatat bahwa kebijakan ini bukan berarti menjadi hari libur. ASN tetap wajib siaga dan dapat merespons dalam waktu maksimal lima menit.

WFH sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat, terutama karena pernah diterapkan selama masa pandemi Covid-19. Meskipun demikian, dalam realisasinya, WFH ternyata tidak semudah dan senyaman yang dibayangkan. Banyak tantangan yang dihadapi oleh para pekerja saat bekerja dari rumah, seperti kesulitan dalam berkoordinasi dengan rekan kerja dan tim, sulitnya berkonsentrasi karena harus mengurus anak-anak atau pekerjaan rumah tangga, serta keterbatasan fasilitas di rumah yang tidak memadai.

Menyikapi Kebijakan WFH dengan Motivasi Ibadah

WFH bukanlah pilihan, melainkan keharusan karena tujuannya yang baik, yaitu untuk transformasi budaya kerja, efisiensi energi, dan adaptasi teknologi. Untuk tetap bisa bekerja secara profesional dan bernilai ibadah meski di rumah, maka kita perlu menjadikan bekerja sebagai bentuk ibadah. Hal ini akan memberikan dorongan positif dan energi positif dalam bekerja.

Karyawan yang bekerja dengan motivasi ibadah akan mendapatkan hasil yang baik dengan cara yang baik. Karenanya, motivasi kerja yang harus selalu terpatri dalam jiwa adalah motivasi untuk beribadah. Bekerja menjadi sarana untuk beribadah.

Dengan demikian, apapun sistemnya dalam bekerja – WFH ataupun lainnya – jika sudah tertanam dalam jiwa rasa pengawasan melekat, maka seorang pekerja akan bekerja sebaik mungkin (professional, kesungguhan hingga ketuntasan). Sebab, yang melandasi seseorang bekerja bukan hanya karena atasan saja yang bisa lalai, akan tetapi yang lebih utama adalah karena Tuhannya.

Kisah Pengawasan Melekat

Setiap malam Khalifah Umar bin Khathab terbiasa untuk meronda, melihat keadaan rakyat yang dipimpinnya dari dekat. Saat Umar melewati sebuah gang, tiba-tiba langkahnya tertahan. Dari bilik sebuah rumah kecil, Umar mendengar seorang ibu sedang bercakap-cakap dengan anaknya.

“Tidakkah kau campur susumu? Hari sudah menjelang pagi,” kata ibu kepada anaknya. “Bagaimana mungkin aku mencampurinya. Amirul Mukminin melarang perbuatan itu,” jawab si anak. “Orang-orang juga mencampurinya. Campurlah! Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,” balas sang ibu.

”Jika Umar tidak melihatnya, Tuhan Umar melihatnya. Aku tidak mau melakukannya karena sudah dilarang,” jawab si anak yang sungguh menyentuh hati Umar.

Nukilah kisah di atas menggambarkan motivasi seseorang dalam bekerja. Dan, bekerja itu bagian dari ibadah. Dua hal yang membedakan, motivasi seseorang bekerja untuk kerja dan motivasi bekerja untuk beribadah. Di manakah posisi motivasi dalam bekerja kita?

Bekerja untuk Kerja vs Bekerja untuk Beribadah

Bekerja untuk kerja. Hal ini diperankan oleh seorang ibu dalam kisah di atas. Dalam hal ini, orang bekerja yang motivasinya untuk kerja akan cenderung menghalalkan segala macam cara untuk tujuan dalam mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Bahkan, ia akan cenderung melakukan segala macam cara yang sekalipun itu dengan cara yang batil. Padahal hal itu terlarang dalam agama.

Bekerja untuk beribadah. Hal ini diperankan oleh sang anak dalam kisah di atas. Orang bekerja yang motivasinya untuk beribadah, untuk mendapatkan hasil yang baik, diperoleh dengan cara yang baik pula, yaitu cara yang dibenarkan menurut aturan agama dan perundang-undangan negara.

Seorang karyawan yang telah tertanam pengawasan melakat dalam dirinya, maka tidak akan menyelesaikan pekerjaan secara asal, berlaku seenaknya, atau melakukan kecurangan. Sebab, seperti dalam kisah yang dinukilkan di atas, meskipun atasan tidak melihat secara langsung, tapi Tuhan Maha Mengawasi hamba-hamba-Nya.

Seringkali pekerjaan sudah kita tunaikan dengan baik, tidak diapresiasi oleh atasan. Kedongkolan kadang tertumpah. Namun hal seperti ini tidak akan terjadi pada diri orang yang ikhlas. Baginya, atasan bisa saja lalai, tapi Tuhan tidak akan pernah melalaikan sekecil apapun amal kebaikan yang telah dikerjakannya.

Semoga kita dapat bekerja dengan ikhlas, penuh semangat, tuntas, dan profesional meski bekerja secara work from home (WFH). Dan, bagi para pimpinan mampu menjaga keikhlasan para karyawannya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *