Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan melakukan blokade terhadap Selat Hormuz. Keputusan ini diambil setelah perundingan antara AS dan Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan. Pengumuman tersebut kemungkinan besar akan memperparah ketegangan dan mengurangi harapan akan adanya perdamaian setelah pembicaraan damai yang dilakukan di Islamabad.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut AS, yang terbaik di dunia, akan memulai proses BLOKADE semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” ujar Trump dalam sebuah pernyataan di platform media sosial Truth Social. Ia menyebut tindakan blokade ini sebagai upaya untuk mencegah Iran menguasai Selat Hormuz dan mengambil keuntungan ekonomi dari jalur laut strategis tersebut.
Perundingan antara AS dan Iran di Islamabad sebelumnya diwarnai oleh ketidakpercayaan. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengungkapkan bahwa kedua pihak belum menemukan kesepakatan meskipun telah berdiskusi selama 14 jam. Menurut Vance, Iran memilih untuk tidak menerima persyaratan yang diajukan oleh AS.
Trump juga menegaskan bahwa AS akan melakukan “pembersihan” terhadap jalur laut strategis tersebut. Laporan dari The Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan bahwa dua kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut AS telah melintasi Selat Hormuz tanpa kendala berarti. Operasi ini dilakukan tanpa koordinasi dengan otoritas Iran, sesuai dengan laporan dari Axios.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyatakan bahwa langkah yang diambil oleh AS adalah bentuk “bantuan” bagi negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Prancis, yang menurutnya tidak memiliki keberanian atau kemauan untuk melakukan hal serupa.
Sebelumnya, dua kapal perang AS dilaporkan telah melintasi Selat Hormuz. Peristiwa ini menjadi transit pertama kapal militer AS sejak konflik dengan Iran meletus pada akhir Februari lalu. Ini menunjukkan bahwa AS sedang meningkatkan kehadirannya di kawasan tersebut.
Beberapa analisis menunjukkan bahwa tindakan blokade yang diumumkan oleh Trump dapat memicu reaksi dari Iran dan negara-negara lain yang bergantung pada Selat Hormuz untuk kebutuhan ekonomi mereka. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pengangkutan minyak mentah dan energi global, sehingga setiap gangguan di sana dapat berdampak luas.
Komentar Trump tentang “pemerasan dunia” menunjukkan bahwa ia percaya bahwa negara-negara lain, terutama AS, tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. Namun, tindakan yang diambil oleh AS juga bisa memicu respons dari Iran dan aliansinya, yang mungkin akan merespons dengan cara yang lebih agresif.
Selain itu, keputusan Trump untuk melakukan blokade juga bisa memengaruhi hubungan diplomatik AS dengan negara-negara lain yang memiliki kepentingan di kawasan tersebut. Tiongkok, misalnya, sering kali mengkritik tindakan AS di kawasan Timur Tengah, dan bisa merasa terganggu jika jalur laut utama seperti Selat Hormuz diblokir.
Secara keseluruhan, situasi di Selat Hormuz semakin memanas. Tindakan yang diambil oleh AS dapat memicu eskalasi konflik, sementara kebuntuan dalam perundingan dengan Iran menunjukkan bahwa solusi damai masih jauh dari tercapai. Masyarakat internasional akan terus memantau perkembangan ini, karena dampaknya bisa sangat luas dan berpotensi memicu krisis global.