Iran Berencana Gunakan Rial untuk Pembayaran di Selat Hormuz
Iran disebut sedang mempertimbangkan rencana pembayaran tarif melintasi Selat Hormuz menggunakan mata uang nasional mereka, rial. Langkah ini bisa mengganggu sistem petrodolar yang selama ini memberikan keunggulan ekonomi AS. Dalam sebuah pernyataan dari konsulat jenderal Iran di Mumbai, ketua komisi keamanan nasional parlemen Iran menyampaikan bahwa biaya transit melalui Selat Hormuz akan dibayarkan dalam rial.
Langkah ini diperkirakan sebagai upaya untuk mengancam dominasi sistem petrodolar. Sistem tersebut dimulai dengan kesepakatan antara Saudi dan AS pada 1974, di mana transaksi minyak Timur Tengah harus menggunakan dolar AS. Keuntungan dari transaksi tersebut kemudian diinvestasikan kembali ke AS, menjaga dominasi dolar meskipun sudah tidak berbasis emas sejak 1973.
Selama bertahun-tahun, AS telah memanfaatkan dominasi dolar dalam perdagangan internasional untuk memperluas pengaruhnya dan merugikan musuh-musuh serta pesaing, termasuk Iran dan China. Dominasi dolar AS terlihat jelas di pasar minyak global, di mana sekitar 80 persen transaksi diselesaikan dalam dolar AS, menurut perkiraan JP Morgan Chase pada tahun 2023.
Ketika Iran menguasai Selat Hormuz, saluran penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global, Teheran dan Beijing mencari cara untuk meningkatkan penggunaan yuan China sebagai alternatif terhadap dolar AS.

Presiden AS Richard Nixon menjabat tangan Raja Faisal di Saudi pada 1973. – (Public Domain)
Di bawah sistem yang berlaku, kapal komersial dikenakan biaya transit dalam yuan, menurut beberapa laporan. Ini merupakan contoh terbaru dari kerja sama ekonomi China-Iran yang difasilitasi oleh mata uang China. Meskipun jumlah kapal yang melakukan pembayaran dalam yuan belum jelas, setidaknya dua kapal telah melakukan pembayaran pada tanggal 25 Maret, menurut Lloyd’s List.
Kementerian Perdagangan China pekan lalu mengakui pelaporan Lloyd’s List dalam sebuah postingan media sosial, yang tampaknya mengkonfirmasi penggunaan yuan untuk pembayaran. Pada hari Sabtu, kedutaan Iran di Zimbabwe menyatakan dalam sebuah postingan media sosial bahwa saatnya untuk menambahkan “petroyuan” ke pasar minyak global.
Menurut Kenneth Rogoff, seorang profesor ekonomi di Universitas Harvard dan mantan kepala ekonom di Dana Moneter Internasional (IMF), Iran mencoba menyalahkan Amerika Serikat sambil sekaligus menunjukkan keberaniannya dalam memilih yuan untuk menghindari sanksi AS. Ia juga menilai bahwa China terus melakukan redenominasi perdagangannya sendiri, sementara negara-negara BRICS semakin mengadopsi yuan.
Bagi Teheran dan Beijing, penggunaan yuan sangat menguntungkan. Mata uang ini memungkinkan keduanya menghindari sanksi AS yang diberlakukan melalui sistem keuangan yang didominasi dolar. Selain itu, penggunaan yuan juga menyederhanakan dan mengurangi biaya perdagangan antara kedua belah pihak, yang telah berkembang pesat selama 25 tahun kerja sama strategis yang ditandatangani pada 2021.
Bulent Gokay, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Keele di Inggris, mengatakan kepada Aljazirah bahwa Iran memahami tantangan terhadap dominasi keuangan AS serta peran penting sistem dolar dan petrodolar.
Bagi China, langkah ini sesuai dengan tujuan Beijing untuk menciptakan dunia keuangan multipolar, di mana peran sentral dolar AS diimbangi oleh semakin besarnya pengaruh negara-negara berkembang. China membeli lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran dan menikmati potongan harga dalam pembelian yang diyakini akan difasilitasi dalam yuan.
Perang tidak banyak mengganggu aliran minyak antara kedua negara, yang tetap stabil seperti sebelum konflik. Dalam dua minggu pertama konflik, Iran mengekspor 12 juta hingga 13,7 juta barel minyak mentah, sebagian besar ke China, menurut Kpler dan TankerTrackers.
China telah lama memiliki ambisi untuk menantang keunggulan dolar. Dalam pidatonya di hadapan para pejabat pada tahun 2024, Presiden China Xi Jinping menyatakan harapannya bahwa yuan akan menjadi mata uang bersama dalam perdagangan internasional dan mencapai “status mata uang cadangan global”.