Dewa News -.CO.ID – JAKARTA.
Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menunjukkan kecenderungan menguat, terutama seiring dengan mulai melemahnya dolar AS dalam jangka pendek. Hal ini terlihat dari pergerakan beberapa pasangan mata uang utama di kawasan tersebut.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Trading Economics pada Rabu (1/4) pukul 14.11 WIB, pasangan USD/JPY tercatat berada di level 158,37, turun 0,22% secara harian dan melemah 0,67% dibandingkan sepekan lalu. Sementara itu, USD/CNY juga mengalami penurunan sebesar 0,19% menjadi 6,87 dalam sehari, serta melemah 0,33% secara mingguan. Pasangan USD/KRW juga turun 0,48% menjadi 1.499 dan melemah 0,26% dalam seminggu terakhir.
Di sisi lain, USD/IDR justru menguat sebesar 0,12% ke level 16.969 dan naik 0,71% secara mingguan. Hal ini menunjukkan bahwa rupiah sedikit lebih stabil dibandingkan mata uang lainnya di kawasan Asia.
Wahyu Laksono, founder Traderindo.com, memberikan analisis terkait situasi dolar AS saat ini. Menurutnya, dolar AS masih dalam fase “stronger for longer”, tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh beli atau overbought. Ia menjelaskan bahwa penguatan Yen (JPY), Yuan (CNY), dan Won (KRW) mengindikasikan adanya aksi ambil untung di pasar Asia Utara, tekanan terhadap USD yang sudah overbought, serta didukung oleh harapan meredanya krisis geopolitik Timur Tengah.
Namun, Wahyu menilai bahwa rupiah sulit untuk menguat secara signifikan. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah risiko fiskal domestik, termasuk potensi kenaikan harga BBM akibat kenaikan harga minyak dunia.
Secara teknikal, Wahyu menyatakan bahwa USD masih dalam tren bullish jangka pendek. Meski demikian, indeks dolar (DXY) masih tertahan di bawah level psikologis yaitu 100.
Untuk proyeksi kuartal II, Wahyu memperkirakan bahwa USD/JPY akan bergerak dalam rentang 150,00 hingga 162,00. Perkiraan ini didasarkan pada kebijakan Bank of Japan (BoJ) dalam menjaga stabilitas yen. Sementara itu, USD/CNY diproyeksikan berada di antara 6,50 hingga 7,00 seiring pengaruh kebijakan People’s Bank of China (PBOC) dan pemulihan perdagangan China.
Adapun, USD/KRW diperkirakan bergerak pada kisaran 1.410 hingga 1.600 karena mata uang ini sensitif terhadap siklus teknologi maupun cip. Terakhir, USD/IDR diproyeksikan berada di rentang 16.800 hingga 17.200 dengan volatilitas yang masih tinggi akibat faktor risiko fiskal domestik.