Nama Mohammad Bagher Ghalibaf kembali menjadi perhatian di tengah ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sebagai tokoh penting di Iran, ia disebut sebagai salah satu calon yang mungkin diajak bekerja sama oleh pihak AS dalam upaya menciptakan solusi terkait konflik yang berkecamuk saat ini.
Dalam laporan yang diterbitkan oleh media tertentu, dua pejabat dari pemerintahan Trump menyatakan bahwa Gedung Putih sedang menyiapkan daftar beberapa tokoh Iran yang potensial untuk dijadikan mitra negosiasi. Tujuannya adalah untuk mengakhiri konflik dan memasuki fase politik baru. Meski tidak menyebut nama secara langsung, sejumlah pejabat Israel mengklaim bahwa Trump merujuk pada Ghalibaf dalam pernyataannya tersebut.
Ghalibaf merupakan mantan Wali Kota Teheran yang kemudian naik pangkat menjadi Ketua Parlemen Iran setelah Ali Larijani meninggal dalam perang. Ia juga dikenal sebagai tokoh senior Garda Revolusi Iran. Selama kariernya, ia pernah memimpin angkatan udara Garda Revolusi dan terlibat dalam pengembangan rudal Iran.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa Iran sedang bersiap untuk menghadirkan kejutan baru dalam perang melawan AS dan Israel. Namun, Ghalibaf menyangkal adanya negosiasi dengan AS. Dalam pernyataannya di media sosial X, ia menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat, serta menyebut laporan tersebut sebagai berita palsu yang bertujuan memengaruhi pasar minyak dan keuangan.
“Iran menuntut hukuman penuh bagi para agresor. Tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat,” tulisnya.
Karier Militer dan Politik Ghalibaf
Mohammad Bagher Ghalibaf lahir pada tahun 1961. Ia adalah veteran perang Iran-Irak yang berlangsung antara 1980 hingga 1988. Kariernya berkembang pesat di militer hingga menjadi komandan dirgantara Garda Revolusi Iran.
Setelah itu, ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional Iran pada 1999 di tengah gelombang mahasiswa. Karier politiknya terus berkembang ketika ia terpilih menjadi Wali Kota Teheran dan menjabat selama sekitar 12 tahun.
Selama masa jabatannya sebagai wali kota, pendukungnya memuji pendekatan teknokratisnya dalam pembangunan kota. Namun, ia juga mendapat kritik terkait dugaan korupsi dan penanganan masalah di wilayah tersebut.
Ghalibaf beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden Iran, termasuk pada 2005, 2013, dan 2024, namun belum pernah menang. Pada 2020, ia terpilih menjadi Ketua Parlemen Iran dan tetap menjadi salah satu tokoh penting dalam struktur kekuasaan Iran.
Peran Ghalibaf dalam Konflik dengan AS dan Israel
Sejumlah analis politik menilai bahwa Ghalibaf kini berada dalam posisi yang sangat menguntungkan karena memiliki pengalaman di bidang militer, keamanan, dan politik sekaligus. Hal itu membuatnya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran saat ini.
Ia juga disebut memiliki hubungan yang kuat dengan berbagai faksi politik dan institusi keamanan Iran, sehingga berpotensi memainkan peran besar dalam menentukan arah Iran ke depan, termasuk dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ghalibaf menyatakan bahwa perang yang terjadi saat ini akan mengubah tatanan Timur Tengah, namun bukan dengan cara yang diinginkan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Iran akan tetap teguh dalam pendiriannya dan tidak akan melakukan negosiasi dengan pihak asing yang dianggap sebagai agresor.