19 April 2026
AA1Zh6ik.jpg

Tantangan Industri Keramik Nasional di Tengah Kenaikan Biaya dan Persaingan Impor

Pada awal tahun 2026, industri keramik nasional kembali menghadapi tantangan berat. Meskipun pada tahun sebelumnya, industri ini mencatat pertumbuhan kinerja yang positif, kini tekanan dari berbagai aspek mulai menggerus stabilitas operasional produsen lokal.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyoroti beberapa isu utama yang menjadi ancaman bagi industri tersebut. Salah satunya adalah gangguan pasokan gas industri, yang terjadi di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Gangguan ini secara langsung memengaruhi operasional pabrik dan produktivitas industri.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menjelaskan bahwa sejumlah industri keramik di Jawa Timur harus menghentikan produksi selama sekitar satu minggu akibat ketidakstabilan pasokan gas. Selain itu, terjadi penurunan alokasi gas industri tertentu (AGIT) serta kenaikan harga surcharge gas. Rata-rata AGIT di Jawa Barat pada 2025 hanya mencapai 67%, turun dari 79% pada 2024. Pada Februari 2026, rata-rata AGIT di Jawa Barat hanya mencapai 49%, sedangkan di Jawa Timur sekitar 51%.

Penurunan AGIT ini menyebabkan lonjakan harga gas ke level US$ 10 – US$ 10,5 per million british thermal unit (MMBTU) di Jawa Barat dan sekitar US$ 8 per MMBTU di Jawa Timur. Hal ini bertentangan dengan tujuan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), yang seharusnya memberikan harga yang lebih terjangkau bagi industri.

Akibatnya, biaya energi dalam struktur biaya produksi industri keramik melonjak menjadi 33% – 35%. Sebagai perbandingan, saat kebijakan HGBT diterapkan pada 2021, biaya energi bisa ditekan hingga 25% – 27%. Edy menilai bahwa kondisi ini sangat merugikan daya saing industri keramik nasional.

Ancaman Impor dan Perubahan Dinamika Pasar

Selain masalah pasokan gas, industri keramik nasional juga menghadapi ancaman dari serbuan produk impor, terutama dari China dan India. Edy mengungkapkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk imbas dari konflik Iran melawan AS dan Israel, berpotensi mengalihkan ekspor keramik dari China dan India ke Indonesia.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena industri keramik di China dan India tengah mengalami oversupply dan overcapacity. Produk impor mereka lebih kompetitif karena biaya produksi yang lebih rendah. Sementara itu, industri keramik dalam negeri justru dibebani kenaikan biaya energi.

Edy menegaskan bahwa kenaikan komponen biaya energi dari 27% ke 35% telah menggerus daya saing industri keramik nasional. Ia menilai bahwa ancaman gempuran impor yang disertai unfair trade harus menjadi alarm bagi pelaku industri.

Tekanan Ekonomi dan Nilai Tukar Rupiah

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memberikan tekanan tambahan. Pembayaran gas ke pemasok utama, yakni PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), menggunakan kurs dolar AS. Hal ini meningkatkan beban biaya produksi.

Kombinasi dari berbagai faktor tersebut telah berdampak terhadap kinerja industri, termasuk tingkat pemanfaatan kapasitas produksi (utilisasi). Asaki mencatat rata-rata utilisasi produksi keramik nasional hingga akhir kuartal I-2026 berada di bawah ekspektasi.

Rata-rata tingkat utilisasi produksi hanya mencapai sekitar 70% – 72%, masih di bawah target Asaki sebesar 80% pada 2026. Level ini juga sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai 73%.

Visi dan Target Pengembangan Industri Keramik Nasional

Sebelumnya, Asaki telah menyusun outlook dan roadmap pengembangan industri keramik nasional dengan pendekatan optimis. Target utilisasi produksi keramik nasional akan terus naik dari 73% pada 2025, mendaki ke level 80% pada 2026, lalu 85% pada tahun depan, dan di atas 90% pada 2028.

Selain utilisasi, kapasitas produksi industri keramik pun akan meningkat. Edy menjelaskan bahwa kapasitas produksi industri keramik nasional tahun lalu berada di level 650 juta meter². Kapasitas terpasang akan bertambah sekitar 4% menjadi 672 juta meter² pada 2026. Dua tahun ke depan, kapasitas akan bertambah lagi hingga mencapai 701 juta meter², sehingga semakin memperkuat posisi industri keramik Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar di dunia.

Peran Pemerintah dan Potensi Pasar Domestik

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri keramik bersifat siklikal dan sangat dipengaruhi oleh dinamika pertumbuhan makro ekonomi, terutama dari sisi aktivitas pembangunan di sektor properti dan konstruksi.

Saat ini, Indonesia memiliki 36 perusahaan keramik dengan total kapasitas terpasang sebesar 650 juta m². Meski menjadi produsen keramik terbesar kelima di dunia, rata-rata konsumsi keramik di Indonesia baru sekitar 2,5 m² per kapita. Angka ini masih di bawah rata-rata regional Asia Tenggara dan negara produsen utama seperti China.

Agus menilai bahwa potensi pasar domestik masih sangat besar untuk dikembangkan, sekaligus menjadi peluang ekspansi bagi industri keramik. Ia optimis bahwa dengan kinerja yang terus meningkat, misi untuk menjadikan sektor keramik naik tingkat ke posisi keempat dunia bisa segera tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *