24 April 2026
CEGAH-PASAR.jpeg

Pemandangan Kontras di Pasar Manggar

Di Pasar Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, terlihat pemandangan yang sangat kontras. Di pintu masuk utama pasar, aktivitas jual beli berlangsung riuh dan ramai. Namun, di koridor ujung kiri pasar, justru terlihat sepi dan tidak ada aktivitas sama sekali.

Deretan meja beton yang dirancang sebagai lapak dagangan terlihat bersih dan rapi. Tidak ada tumpukan ikan atau hamparan es yang biasanya menjadi ciri khas pedagang ikan. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa lapak di area tersebut kosong dan belum diisi oleh para pedagang.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, lapak-lapak yang kosong tersebut sebenarnya sudah memiliki pemilik. Namun, para pedagang ikan memilih untuk pindah ke area depan pasar, yang lebih dekat dengan arus masuk pengunjung.

Salah satu pedagang di Pasar Manggar, Man (42), mengatakan bahwa kondisi seperti ini sudah terjadi sejak beberapa bulan setelah Pasar Manggar pertama kali dioperasikan. Awalnya, seluruh lapak terisi penuh. Namun, seiring berjalannya waktu, para pedagang mulai mencari cara agar dagangannya lebih cepat laku.

Mereka pun memilih untuk pindah ke area depan pasar yang lebih dekat dengan pengunjung. “Ada semua orangnya. Cuma emang sengaja tidak diisi, tetapi ada semua yang punya itu. Masalahnya orang berebut mengejar di depan,” ujar Man.

Kondisi ini menciptakan kepadatan yang tidak merata di dalam pasar. Para pedagang ikan lebih memilih untuk berhimpitan di area depan pasar ketimbang mengisi lapak resmi mereka yang berada di bagian ujung. Mereka melakukan ini demi mengejar pembeli agar dagangan lebih cepat laku.

Man menyebutkan, saking inginnya berada di posisi depan, satu meja lapak di area depan bisa ditempati oleh banyak pedagang sekaligus. Kondisi ini dianggap lebih menguntungkan daripada berjualan di lapak yang jauh dari pandangan pembeli yang baru masuk pasar.

“Buka yang di depan, tahan mereka mepet-mepet ngumpul semua di depan. Itu dalam satu meja kadang-kadang sampai orang empat (yang jualan),” kata Man.

Menurutnya, pengunjung pasar yang sering kali enggan berjalan jauh ke area belakang pun menjadi salah satu penyebab fenomena tersebut. Padahal, akses menuju bagian ujung pasar sebenarnya bisa dijangkau tanpa perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

Man menilai pengunjung pasar memiliki sifat penasaran jika melihat keramaian. Namun, jika hanya ada satu atau dua orang yang berjualan di ujung, daya tarik pengunjung untuk membeli pun hilang.

“Percuma kalau cuma orang dua, sendiri jualan di situ. Terkecuali kalau diisi semua ramai kan, bisa. Orang kan sifatnya penasaran,” tutur Man.

Ia pun berharap ada solusi dari pengelola pasar atau pemerintah terhadap fenomena tersebut.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *