27 April 2026
AA1YKad6.jpg

Kenaikan Harga Minyak Akibat Ketegangan di Selat Hormuz

Kenaikan harga minyak global terus berlangsung akibat ketegangan yang muncul di Selat Hormuz, salah satu jalur paling penting dalam perdagangan energi dunia. Peristiwa ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajak negara-negara besar untuk membentuk koalisi internasional guna memastikan keamanan jalur tersebut.

Selat Hormuz menjadi jalur utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada pasar energi global. Kekhawatiran meningkat setelah konflik antara Iran dengan AS dan Israel menyebabkan aktivitas pelayaran terganggu. Hal ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent, yang sempat melonjak lebih dari 3% hingga menembus US$106 per barel.

Pada awal perdagangan berikutnya, harga Brent sedikit melemah namun tetap stabil di sekitar US$104,63 per barel, naik hampir 1,5%. Lonjakan harga ini mencerminkan ketidakpastian pasar energi terhadap masa depan pengangkutan minyak melalui jalur strategis ini.

Tantangan Keamanan di Selat Hormuz

Sejak konflik dimulai, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis. Data dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menunjukkan bahwa rata-rata 138 kapal melintasi jalur tersebut setiap hari, kini hanya lima kapal per hari yang mampu melewati wilayah tersebut. Selain itu, sedikitnya 16 kapal komersial dilaporkan diserang di kawasan tersebut sejak konflik dimulai pada 28 Februari.

Insiden ini semakin meningkatkan risiko keamanan bagi aktivitas perdagangan global. Al Jazeera melaporkan bahwa sejak konflik berlangsung, harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40%, yang berdampak pada kenaikan harga bahan bakar dan meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.

Upaya Pemerintah AS dan Negara Lain

Presiden Trump menyerukan pembentukan koalisi internasional untuk menjaga keamanan Selat Hormuz. Ia meminta sekitar tujuh negara untuk mengirimkan kapal perang guna menjaga jalur tersebut. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa negara-negara yang sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga keamanan jalur tersebut.

Trump juga menilai bahwa AS tidak terlalu bergantung pada minyak yang melewati Selat Hormuz dibandingkan dengan negara lain. Ia mencontohkan China yang menerima sekitar 90% pasokan minyaknya melalui jalur tersebut, sedangkan AS hanya menerima sebagian kecil. “Kami akan membantu dan bekerja bersama mereka, tetapi akan lebih baik jika negara lain juga ikut menjaga jalur tersebut,” ujar Trump di pesawat Air Force One.

Namun, Al Jazeera melaporkan bahwa negara-negara seperti China, Jepang, Prancis, dan Inggris belum menyatakan komitmen untuk mengerahkan armada laut guna mengamankan Selat Hormuz. Trump bahkan memperingatkan bahwa NATO akan menghadapi masa depan yang “sangat buruk” apabila proposal tersebut tidak mendapatkan tanggapan positif.

Perspektif Stabilitas Energi Global

Pejabat pemerintahan Trump menyatakan bahwa pengerahan kapal perang AS ke Selat Hormuz belum akan dilakukan hingga kemampuan militer Iran dinilai semakin melemah. Pemerintah AS memperkirakan operasi pengamanan Selat Hormuz akan segera dimulai dalam waktu dekat.

Perlu dicatat bahwa situasi ini menunjukkan betapa pentingnya stabilitas energi global. Selat Hormuz bukan hanya jalur transportasi minyak, tetapi juga menjadi simbol kerja sama internasional dalam menjaga keamanan sumber daya energi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *