19 April 2026
AA1VjySG.jpg

Proyek Ekosistem Baterai: Dukungan untuk Program 100 GW PLTS

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa proyek ekosistem baterai yang digarap oleh konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. atau Huayou akan menjadi pendukung utama program pemerintah berupa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 100 gigawatt (GW).

Proyek ini, yang dikenal sebagai proyek Titan, dijalankan melalui HYD Investment Limited, sebuah konsorsium yang terdiri dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk. Konsorsium ini menggantikan peran LG Energy Solution yang mundur pada April 2025 lalu.

Salah satu pemain utama dalam proyek ini adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), yang merupakan BUMN dan pengelola mayoritas proyek. ANTAM juga bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dalam menjalankan inisiatif ini.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa produk yang dihasilkan dari ekosistem baterai ini tidak hanya terbatas pada mobil, tetapi dirancang khusus untuk baterai panas surya yang mendukung pembangkit listrik hijau.

“Tujuan kami adalah membangun jalan paralel karena arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sekaligus untuk merespons program 100 GW PLTS,” ujar Bahlil dalam acara di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (30/1/2026).

Kerja Sama yang Mengubah Wajah Industri Baterai

Kolaborasi antara investor global seperti Huayou dan EVE Energy dengan perusahaan nasional seperti ANTAM, IBI, dan DBL diharapkan dapat meningkatkan transfer teknologi. Hal ini bertujuan agar perusahaan nasional mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Sebagai bagian dari kerja sama ini, konsorsium ANTAM–IBC–HYD telah menandatangani kerangka kerja sama (Framework Agreement) yang menandai awal kemitraan resmi dalam merealisasikan proyek ekosistem baterai listrik terintegrasi.

Proyek ini memiliki rencana produksi baterai hingga 20 gigawatt hour (GWh), dan diharapkan menjadi salah satu ekosistem terbesar di Asia. Estimasi nilai investasi mencapai US$6 miliar, dengan potensi penciptaan sekitar 10.000 lapangan kerja baru.

Rencana lebih detail akan disusun melalui studi kelayakan yang sedang dalam proses.

Prioritas Kepemilikan Negara

Meski terlibat dalam proyek ini, Bahlil menegaskan bahwa kepemilikan mayoritas akan tetap dipegang oleh ANTAM sebagai BUMN. Hal ini dilakukan sesuai dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yang menegaskan prioritas kepentingan negara.

Selain itu, Bahlil juga menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan daerah dalam membangun ekosistem baterai. Rencananya, proyek ini akan melibatkan mitra-mitra lokal, termasuk pengembangan tambang, smelter, serta pabrik hilirisasi di Maluku Utara, khususnya di Halmahera Timur.

Potensi Indonesia sebagai Pemain Utama

Bahlil menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa jika proyek ini berhasil dijalankan, maka Indonesia akan menjadi salah satu negara yang mampu membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi.

“Saat ini, belum ada negara lain di dunia yang mampu melakukan hal ini selain China,” ujarnya.

Proyek ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar energi global, khususnya dalam industri baterai dan energi terbarukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *