19 April 2026
AA1VjrrX.jpg

Proyek Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik (EV) Senilai US$6 Miliar Dalam Proses Pembenahan

Proyek besar yang dikenal sebagai grand package ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) konsorsium PT Antam Tbk, PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan Zhejiang Huayou Cobalt Co (HYD) senilai US$6 miliar (kurs Rp16.797) telah ditandatangani dalam rangka pengembangan ekosistem baterai terintegrasi. Proyek ini diharapkan dapat segera dibangun pada tahun ini.

Penandatanganan Framework Agreement Konsorsium ANTAM-IBI-HYD disaksikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Jumat (30/1/2026). Menurutnya, proyek ini akan menjadi ekosistem baterai EV terbesar kedua di dunia setelah China. Kapasitas awal proyek ini adalah 20 gigawatt (GW).

“Ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo dalam mempercepat proyek hilirisasi. Total investasinya sekitar US$6 miliar,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (30/1/2026).

Lokasi dan Rencana Pembangunan

Proyek ini direncanakan terbagi menjadi dua lokasi utama. Pertama, pabrik baterai mobil akan dibangun di Jawa Barat. Sementara itu, untuk prekursor/katoda dan smelter HPAL akan berada di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Bahlil menjelaskan bahwa proyek ekosistem baterai EV ini memiliki perjalanan panjang. Sebelumnya, proyek ini sempat mengalami penundaan beberapa tahun terakhir. Proyek yang dikenal dengan nama Proyek Titan ini sudah dimulai perundingannya sejak 2020.

Indonesia memiliki ambisi untuk membangun ekosistem baterai mobil terintegrasi mulai dari tambang, smelter HPAL, pabrik prekursor/katoda, sel baterai hingga daur ulang. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah merencanakan megaproyek yang terbagi menjadi dua proyek utama.

Proyek Dragon dan Proyek Titan

Pertama, proyek Dragon yang digarap oleh konsorsium Contemporary Ampherex Technology Co. Ltd. (CATL), PT Aneka Tambang Tbk. atau Antam (ANTM), dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Kedua, proyek Titan yang merupakan lanjutan dari proyek Omega oleh PT Hyundai LG Industry (HLI) yang terintegrasi di Karawang, Jawa Barat. Proyek Omega merupakan hasil kerja sama dengan Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution Ltd.

Awalnya, proyek Titan juga akan digarap oleh LG Energy Solution Ltd. Namun, Bahlil menjelaskan bahwa LG memiliki banyak pertimbangan selama 4 tahun terakhir, sehingga Feasibility Study (FS) mandek.

“Akhirnya karena waktu yang tidak mendukung, kami memutuskan untuk ‘sudah kau ambil saja barangnya, tetapi untuk ekosistemnya biar teman-teman yang melakukan,” tuturnya.

Peran Konsorsium HYD

Akibatnya, konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt Co (HYD) masuk menggantikan LGES dalam proyek Titan ini. Bahlil menegaskan bahwa kepemilikan mayoritas dipegang oleh BUMN, PT Antam Tbk dengan target mencapai 60%-70%, terutama untuk proses hulu.

“Insha Allah tahun ini kita juga akan melakukan ground breaking dalam arahan Bapak Presiden Prabowo bisa kita lakukan semester pertama kalau sudah selesai persiapannya,” jelasnya.

Tujuan dan Harapan

Dengan proyek ini, Indonesia berharap dapat meningkatkan kapasitas produksi baterai kendaraan listrik secara signifikan. Selain itu, proyek ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional melalui peningkatan nilai tambah dari sumber daya alam yang ada.

Kehadiran proyek ini juga diharapkan dapat membuka peluang kerja baru serta meningkatkan keterampilan teknis masyarakat setempat. Dengan adanya pembangunan infrastruktur yang diperlukan, seperti pabrik dan fasilitas pendukung lainnya, proyek ini akan menjadi salah satu ikon industri baterai di Asia Tenggara.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan partisipasi aktif dari konsorsium, proyek ini diharapkan dapat menjadi contoh sukses dalam pengembangan industri hijau dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *