19 April 2026
AA1VjjGw.jpg



PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sedang melakukan transformasi bisnis guna menyesuaikan dengan arahan yang diberikan oleh BPI Danantara. Arahan ini menginginkan PGAS fokus pada bisnis midstream dan downstream gas bumi, bukan lagi berada di segmen upstream. Hal ini menjadi bagian dari transformasi fundamental yang sedang dilakukan terhadap BUMN-BUMN di sektor energi.

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menyatakan bahwa PGAS telah diminta untuk tidak lagi bermain di segmen hulu migas. Tujuannya adalah agar perusahaan bisa lebih fokus pada distribusi gas bumi hingga ke rumah tangga masyarakat. Transformasi ini juga bertujuan untuk memperkuat posisi PGAS sebagai pemain utama dalam rantai pasok gas bumi nasional.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2025, PGAS mencatat pendapatan konsolidasi sebesar US$ 2,92 miliar. Pendapatan tersebut didominasi oleh segmen niaga dan transmisi gas senilai US$ 2,73 miliar. Selain itu, PGAS juga mencatat pendapatan eksplorasi dan produksi migas di sektor hulu sebesar US$ 219,46 juta serta pendapatan operasi lainnya sebesar US$ 254,09 juta. Perusahaan juga mencatat eliminasi sebesar US$ 278,67 juta.

Fajriyah Usman, Corporate Secretary Perusahaan Gas Negara, menjelaskan bahwa arah strategis PGAS selalu disusun sesuai dengan kebijakan PT Pertamina (Persero) selaku induk usaha. PGAS juga memperhatikan dinamika kebijakan pemerintah dan pemangku kepentingan, termasuk Danantara.

Saat ini, PGAS masih aktif dalam pembahasan dan koordinasi lebih lanjut terkait arahan transformasi bisnis yang fokus pada segmen midstream dan downstream. Setiap langkah strategis akan melalui kajian menyeluruh, baik dari sisi bisnis, operasional, maupun tata kelola perusahaan.

Prinsip utama PGAS adalah terus mendorong pembangunan dan pengembangan infrastruktur gas bumi nasional. Infrastruktur ini mencakup jaringan pipa gas, fasilitas regasifikasi LNG, serta perluasan jaringan gas rumah tangga. Upaya ini diarahkan untuk mendukung ketahanan dan swasembada energi nasional serta mengurangi laju impor energi.

Ke depan, PGAS akan terus memperkuat perannya sebagai penyedia infrastruktur dan solusi gas bumi yang terintegrasi. Fokus utamanya adalah keandalan pasokan kepada pelanggan, efisiensi sistem, serta keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo menyatakan bahwa jika PGAS harus keluar dari bisnis hulu migas, maka emiten ini berpotensi kehilangan momentum peningkatan laba ketika harga komoditas minyak dan gas melonjak. Pendapatan PGAS pun berpotensi relatif flat karena karakteristik bisnis gas bumi yang mengandalkan kontrak jangka panjang.

Peluang bagi PGAS untuk melakukan divestasi aset blok migas juga cukup terbuka jika transformasi bisnis ini dilaksanakan. Namun, risiko tekanan terhadap kinerja keuangan dalam jangka pendek tentu akan muncul akibat divestasi tersebut. Dana hasil divestasi dapat digunakan untuk ekspansi operasional PGAS.

Dari situ, PGAS perlu lebih gencar memperkuat bisnis midstream dan downstream melalui ekspansi pengembangan jaringan pipa transmisi dan optimalisasi LNG. Namun, PGAS juga perlu mewaspadai tantangan seperti kebutuhan capital expenditure (capex) yang besar dan kebijakan tarif gas industri yang dapat membatasi margin.

Praska menyebut bahwa saham PGAS tetap menarik untuk dikoleksi karena biasanya menawarkan yield dividen yang atraktif. Saham PGAS direkomendasikan buy on weakness dengan target harga di level Rp 2.200 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *