25 April 2026
AA1MN6CR.jpg

Aksi Gubernur Jawa Barat dalam Menghadapi Bencana Alam

Aksi yang dilakukan oleh Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, dalam meluncurkan moratorium larangan penebangan hutan mendapat perhatian besar dari masyarakat. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya bencana alam yang semakin sering terjadi. Pemikiran tersebut muncul setelah beberapa wilayah di Sumatera Utara mengalami banjir dan tanah longsor yang dikaitkan dengan maraknya penebangan hutan.

Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa pemerintah Provinsi Jawa Barat akan segera membuat kebijakan moratorium larangan penebangan areal hutan yang berpotensi menyebabkan bencana. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan yang lebih parah.

“Kami akan segera membuat moratorium larangan penebangan hutan, mungkin hari besok sudah saya luncurkan,” ujar Dedi Mulyadi.

Ia menekankan pentingnya menjaga pohon daripada sekadar menanamnya kembali. Meskipun menanam pohon juga sangat penting, ia menilai bahwa menebang pohon jauh lebih merugikan lingkungan.

“Menanam seribu pohon belum tentu jadi seratus pohon, tapi menebang seribu pohon sudah jelas kehilangan banyak manfaat bagi lingkungan,” katanya.

Dedi juga menyentil pihak-pihak yang salah dalam pengambilan keputusan, yang akhirnya menyebabkan bencana. Ia menegaskan bahwa kesalahan dalam kebijakan harus diakui dan diperbaiki agar tidak terulang kembali.

“Para pihak yang telah melakukan kekeliruan dalam pengambilan keputusan dalam mengambil kebijakan. Sehingga menimbulkan bencana untuk menyadarinya dan bertaubat agar tidak mengulangi peristiwa itu,” tambahnya.

Selain itu, Dedi meminta masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga dan merawat lingkungan. Ia menegaskan bahwa bumi adalah tempat tinggal kita, sehingga harus dirawat dan dijaga, bukan dirusak.

Upah yang Lebih Besar untuk Menanam Pohon

Selain meluncurkan moratorium, Dedi Mulyadi juga mengajak warga untuk menanam dan merawat pohon. Untuk memotivasi masyarakat, ia menetapkan upah sebesar Rp 50 ribu per hari. Upah ini lebih besar dibandingkan upah mencangkul di daerah tertentu, yang hanya sekitar Rp 30 ribu.

“Konsep saya gak begitu nanti setiap masyarakat itu 1 atau 2 hektar menanam pohon kemudian merawatnya supaya pohon itu kokoh dan kuat. Dan mereka mendapat upah dalam setiap hari distandarkan oleh saya 50 ribu,” jelas Dedi.

Ia menjelaskan bahwa pohon yang akan ditanam nanti akan dipadukan dengan berbagai jenis pohon. Contohnya, pohon hutan yang tidak bisa ditebang seperti Caringin, Jamuju, dan Tanjung.

“Jadi ini yang akan kita lakukan, kita tanemin pohonnya perpaduan, satu pohon hutan yang tidak bisa ditebang misalnya kaya Caringin, Jamuju, kemudian Tanjung, itu bahasa saya yah,” katanya.

Selain pohon hutan, Dedi juga akan meminta warga menanam pohon yang bisa menghasilkan buah, seperti nangka, jengkol, dan lain sebagainya. Hasil panen dari pohon tersebut diperbolehkan untuk dinikmati oleh para warga.

“Kemudian yang lainnya pohon yang produktif, peuteuy, jengkol, nangka, nah itu. Sehingga dalam jangka panjang masyarakat mendapat hasilnya,” tambahnya.

Untuk mempercepat pelaksanaan program ini, Dedi akan mengundang Perhutani untuk mengetahui areal kosong yang bisa digunakan untuk penanaman pohon. Ia berharap kolaborasi ini dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *