25 April 2026
AA1QzyPD.jpg

Masalah Limbah Cangkang Rajungan di Desa Sukajaya

Di Desa Sukajaya, Kabupaten Karawang, tumpukan cangkang rajungan yang menggunung menjadi pemandangan yang tidak elok. Limbah ini terbentuk dari hasil pengolahan rajungan yang dilakukan oleh warga setempat. Setiap bulan, kawasan pesisir ini menghasilkan limbah cangkang rajungan dalam jumlah yang mencapai puluhan ton.

Desa Sukajaya dikenal sebagai salah satu lumbung utama rajungan di pesisir utara. Ekonomi desa ini bergantung pada beberapa miniplant (unit pengolahan) rumahan yang tersebar di kampung-kampung nelayan. Setiap hari, ratusan kilogram rajungan segar hasil tangkapan nelayan langsung diolah di sana. Dagingnya dipisahkan secara telaten, dikemas, dan dijual ke pabrik-pabrik besar atau diekspor.

Namun, di balik proses tersebut, cangkang-cangkang yang tidak bernilai ekonomi dibuang begitu saja oleh masyarakat. Limbah ini dibiarkan menggunung dan berpotensi menyebabkan pencemaran udara, air, dan tanah. Masalah yang sebelumnya dianggap buntu kini menemukan jalan keluar melalui inovasi pengolahan limbah cangkang rajungan.

Inovasi Pengolahan Limbah Cangkang Rajungan

PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) memelopori sebuah inovasi pengolahan limbah cangkang rajungan. Melalui program pemberdayaan masyarakat, limbah cangkang rajungan yang tadinya tidak bernilai kini disulap menjadi pupuk cair berkualitas tinggi.

Inisiatif ini bukan hanya sekadar program daur ulang, tetapi juga merupakan inovasi teknologi tepat guna yang mentransformasi limbah dari sumber masalah lingkungan menjadi produk bernilai ekonomi. Program ini juga menjawab tantangan ketahanan pangan di sektor pertanian dengan menyediakan pupuk yang berasal dari olahan limbah cangkang rajungan.

Head of Communication, Relations & CID PHE ONWJ, R. Ery Ridwan menjelaskan bahwa program ini adalah bukti nyata bahwa operasi hulu migas di lepas pantai tidak bisa dipisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat di darat. Kehadiran industri, menurutnya, harus menjadi katalisator penyelesaian masalah sosial dan lingkungan.

“Tanggung jawab kami sebagai perusahaan penghasil migas tidak selesai saat minyak atau gas diangkat dari anjungan. Tanggung jawab itu meluas hingga ke pesisir, memastikan bahwa kehadiran kami membawa dampak positif yang nyata dan terukur,” ujar Ery.

Visi Hilirisasi dan Kontribusi pada Ketahanan Nasional

Ery menegaskan, inisiatif ini merupakan penerjemahan konkret dari visi besar pemerintah mengenai hilirisasi. “Hilirisasi adalah program strategis nasional. Kami menjawabnya dari skala komunitas. Kita tidak sekadar memberi bantuan, tetapi membangun keahlian,” katanya.

“Cangkang rajungan yang tadinya dibuang, kini kita olah menjadi alternatif pendapatan baru. Ini adalah inti dari ekonomi sirkular yang kami terapkan di lapangan. Dampaknya ganda, di satu sisi kita menjaga kebersihan ekosistem laut, di sisi lain kita menghasilkan pupuk untuk mendukung kedaulatan pangan. Inilah cara Pertamina berkontribusi pada ketahanan nasional,” imbuh Ery.

Program ini juga selaras dengan penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) Perusahaan. Program ini secara langsung mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam penanganan ekosistem laut dan konsumsi produksi yang bertanggung jawab.

Program “Jam Pasir” dan Pilar Ekonomi Sirkular

Ery menguraikan bahwa program di Desa Sukajaya ini memperkuat pilar ekonomi dalam program unggulan “Jam Pasir”, akronim dari Jaga Alam melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Program ini sebelumnya fokus pada rehabilitasi mangrove dan ekosistem pesisir.

Kini PHE ONWJ menambah kekuatan program dengan pilar ekonomi sirkular, melalui inovasi pupuk cair. Ery menceritakan, ide ini tidak datang dari ruang rapat di Jakarta, melainkan dari hasil diskusi panjang dan pemetaan sosial langsung dengan warga Sukajaya.

“Kami datang, mendengar, dan menemukan masalah utama mereka adalah limbah rajungan. Potensinya juga ada di sana. Kami hanya memfasilitasi teknologinya dan melatih mereka,” jelasnya.

“Sangat membanggakan melihat warga yang tadinya hanya tahu mengupas rajungan, sekarang mereka bangga menyebut diri mereka ‘peracik’ pupuk. Ada keahlian baru, ada martabat baru yang tumbuh bersama program ini,” tambah Ery.

Komitmen untuk Kemandirian Masyarakat

PHE ONWJ berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat sampai mandiri. “Kami akan dampingi terus kelompok ini, mulai dari standarisasi produk, pengemasan, hingga perizinan, agar pupuk ini bisa masuk ke pasar yang lebih luas. Program TJSL yang berhasil adalah program yang bisa ditinggalkan kelak, karena masyarakatnya sudah mandiri dan sejahtera,” tutup Ery.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *