Perayaan Kamulyaning Tirta di Klaten: Simbol Kebersamaan dan Toleransi
Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB) Kebersamaan Klaten menggelar rangkaian kegiatan yang dinamakan Kamulyaning Tirta pada Sabtu, 15 November 2025. Acara ini diselenggarakan sebagai peringatan Hari Toleransi Internasional sekaligus memperingati HUT ke-27 FKUB. Kegiatan ini menekankan pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan bagi semua makhluk.
Para tokoh lintas iman yang hadir menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga air sebagai simbol kebersamaan. Mereka menekankan bahwa krisis air bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga persoalan bersama yang harus dihadapi dengan cara kolaboratif. Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk memperkuat semangat toleransi dan persaudaraan sesama warga Klaten.
Acara Berlangsung di Vihara Bodhivamsa dengan Doa Lintas Agama
Kegiatan Kamulyaning Tirta dipusatkan di Wisma Dhammaguna Vihara Bodhivamsa, Jl Mayor Kusmanto, Semangkak, Klaten Tengah. Suasana acara berlangsung khidmat karena setiap pemuka agama memimpin doa sesuai keyakinannya masing-masing. Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo turut hadir dan memberikan dukungan atas kegiatan lintas iman ini.
Doa yang dibacakan secara bergantian menggambarkan harmoni antarumat beragama yang sudah lama tumbuh di Klaten. Masyarakat yang hadir terlihat antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan. Momentum ini sekaligus menjadi ruang bersama untuk mengingat bahwa spiritualitas dan ekologi memiliki hubungan erat.
Kirab Kendi Berisi Air dari Banyak Sumber Simbolkan Persatuan
Setelah rangkaian doa, kegiatan dilanjutkan dengan kirab kendi yang diisi air dari berbagai sumber di Klaten. Air-air tersebut kemudian dituangkan kembali ke tanah sebagai simbol kesucian dan keharmonisan alam. Prosesi ini mengajak masyarakat memahami bahwa sumber daya air tidak hanya harus dijaga, tetapi juga dihormati bersama.
Kirab menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi kerja sama dalam merawat lingkungan. Kegiatan ini juga mengingatkan bahwa setiap tetes air memiliki perjalanan panjang yang harus dihargai. Pesan ekologis ini semakin kuat karena dilakukan di tengah upaya menjaga keseimbangan alam daerah.
Upacara Fangshen atau Pelepasan Kehidupan
Prosesi Kamulyaning Tirta kemudian diteruskan dengan upacara Fangshen atau pelepasan kehidupan. Dalam prosesi tersebut, Bhiku memimpin pelepasan puluhan ikan lele ke sungai. Selain itu, beberapa burung juga dilepasliarkan sebagai simbol pembebasan dan penghormatan terhadap makhluk hidup.
Prosesi ini mengingatkan bahwa setiap makhluk memiliki perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Warga yang hadir menyambut prosesi tersebut dengan penuh rasa syukur dan harapan. Kegiatan ini sekaligus menjadi pembelajaran bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar teori, tetapi tindakan nyata yang dapat dilakukan bersama.
FKUB Tekankan Pesan Ekologis dan Kebersamaan Lintas Iman
Ketua FKUB Kebersamaan Klaten, Pendeta Wahyu Nirmala, menjelaskan bahwa Kamulyaning Tirta sudah dicanangkan sejak tahun lalu. Ia menyebut kegiatan tersebut sarat makna ekologis sekaligus spiritualitas lintas iman.
“Ini dalam rangka penghayatan spiritualitas kami bersama berhubungan dengan ekologi dan keberagaman yang ada di Klaten ini,” ujarnya. Wahyu juga menekankan bahwa mengumpulkan air dari berbagai sumber lalu menyatukannya sebelum dikembalikan ke bumi adalah simbol kolaborasi yang tulus.
“Karena dengan mengumpulkan air dari beberapa sumber, dari masing-masing unsur, kemudian disatukan dan kemudian dikembalikan ke bumi,” katanya. Ia berharap kegiatan ini terus menjadi pengingat bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk merawat bumi bersama-sama.