Dewa News –
Sejumlah warga mencari rezeki dengan menjadi pengrajin sasag di Kampung Citembong, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat. Dengan memanfaatkan bambu, mereka berkarya dan menjualnya kepada para pembuat tahu.
Rohmat
, 65 tahun mempertunjukkan kemampuannya menganyam potongan bambu yang telah teriris tipis di depan rumah panggungnya di Citembong, Senin 23 Juni 2025 pagi. Tangannya sesekali menekan, menjepit serta memasukkan potongan tipis bambu agar tertindih potongan lain.
Semakin banyak potongan yang tertindih, pola anyaman pun makin terlihat. Selain pola anyaman yang nampak, potongan-potongan yang saling tindih dan silang menyilang tersebut akhirnya membentuk lembaran dengan panjang dan lebar 61 sentimeter.
Sekilas, lembaran itu mirip dengan bilik bambu. Namun selain ukuran lebih kecil, penggunaan sasag berbeda dengan bilik. Jika bilik ukurannya lebih besar dan biasa dipakai sebagai dinding rumah, sasag dipakai sebagai alat untuk menjemur atau mendinginkan produksi berbagai jenis makanan.
Rohmat misalnya, membuat sasag untuk alas tahu yang baru selesai diproduksi. Hari itu, Rohmat tengah mengerjakan pesanan dari pembuat tahu di wilayah Buniayu, Kabupaten Cianjur.
“Anjeunna dianggo, diicalan deui (Selain dipakai sendiri, si pemesan juga menjual lagi sasag buatan saya),” tutur Rohmat kepada “PR” yang menyaksikan langsung kemampuannya membuat anyaman itu.
Sasag, tutur Rohmat, diperlukan oleh pembuat tahu untuk mendinginkan tahu yang telah diberi warna kuning dari rebusan air kunyit. Saat diangkat, tahu yang telah menguning dan mengepulkan asap dari air rebusan itu kemudian didinginkan di atas sasag.
Karena berupa anyaman bambu, tahu pun seperti tersaring dari air yang ikut terbawa dalam proses perebusan. Air lalu menetes ke bawah dan tahu mendingin dan siap dibungkus untuk dijual.
Rohmat mengungkapkan, para pembuat tahu lebih memilih menggunakan sasag ketimbang alas dari bahan lain. Selain lebih murah harganya, proses pendinginan menggunakan bahan bambu terbilang cepat.
Order pembuatan sasag pun cukup mengalir dari para pembuat tahu. Dalam sebulan, Rohmat mampu membuat 100-150 lembar sasag. Produksinya pun selalu habis diserap pembuat tahu.
Jika sangat butuh, sasag buatannya bahkan langsung diambil dan dibeli oleh pembuat tahu. “Nembe kenging 20 siki ge dicandak (Baru dapat 20 lembar sasag saja langsung diambil),” tuturnya.
Sasag dijual Rp 4.000 per lembar. Rohmat cukup bersyukur memperoleh penghasilan dari kemampuannya membuat anyaman bambu itu. Dengan usia yang telah lanjut dan pekerjaan hanya menggarap kebun, membuat sasag cukup menambah penghasilannya.
“Ulah tambih nganggur teuing (Lumayan, ketimbang saya menganggur),” ucapnya.
Rohmat semula merupakan pengrajin bilik bambu. Tak heran, urusan menganyam sudah biasa dilakukannya sejak dulu. Namun, usaha pembuatan bilik itu akhirnya gulung tikar seiring makin berkurangnya minat masyarakat menggunakan bilik saat membangun rumah.
Masyarakat, tutur Rohmat, lebih memilih menggunakan bahan material yang lebih praktis untuk dinding rumahnya seperti glass reinforced concrete (GRC). Imbasnya, pesanan bilik pun berkurang dan ia memilih menjadi pengrajin sasag.
Dalam pembuatan sasag, Rohmat dibantu oleh istrinya, Nani Sumarni, 53 tahun. Nani terkadang membantu Rohmat menganyam. “Sami-sami sasarengan (Saling bantu saja membuat sasag),” tuturnya.
Bertahan
Tak cuma Rohmat, terdapat sekira empat warga Citembong lain yang bekerja sebagai pembuat sasag. Seorang pengrajin sasag telah tutup usia sehingga hanya tersisa tiga pengrajin di kampung itu selain Rohmat.
Selama produk mereka masih dipakai dan dibeli, maka selama itu pula profesi pembuat sasag masih bertahan. Namun jika alas tahu yang selesai diproduksi saja sudah memakai produk plastik, logam dan perlengkapan modern lain, sasag yang lebih ramah lingkungan tersebut mungkin hanya tinggal cerita.***