19 April 2026
AA219aZx.jpg



Pertumbuhan ekonomi di Indonesia terus menunjukkan tanda-tanda positif meskipun mengalami perlambatan pada kuartal pertama tahun 2026. Hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa kegiatan usaha diperkirakan akan meningkat pada kuartal II 2026 setelah melambat di kuartal I 2026. Hal ini didasarkan pada data Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis oleh BI.

Meski terjadi penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya, kinerja kegiatan dunia usaha pada kuartal I 2026 masih berada di zona positif. Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, menjelaskan bahwa nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal I 2026 mencapai 10,11%. Angka ini lebih rendah dibandingkan SBT pada kuartal IV 2025 yang mencapai 10,61%.

“Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan I 2026 terjaga,” ujar Anton dalam pernyataannya, Jumat (17/4/2026).

Mayoritas lapangan usaha masih menunjukkan kinerja positif meskipun ada perlambatan. Beberapa sektor utama yang menjadi penopang antara lain:

  • Jasa keuangan dengan SBT sebesar 1,94%
  • Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan SBT sebesar 1,54%
  • Industri pengolahan dengan SBT sebesar 1,46%
  • Perdagangan besar dan eceran termasuk reparasi mobil dan sepeda motor dengan SBT sebesar 1,24%

Menurut BI, terjaganya aktivitas dunia usaha pada awal tahun ini turut didukung oleh peningkatan permintaan masyarakat selama momentum berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional. Momentum tersebut antara lain perayaan Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, serta periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.

Selain itu, aktivitas ekonomi juga didorong oleh dimulainya musim panen, khususnya pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.

Di masa depan, pelaku usaha memperkirakan kegiatan usaha akan meningkat pada kuartal II 2026. Responden survei memprakirakan SBT kegiatan usaha mencapai 14,80%, lebih tinggi dibandingkan capaian kuartal I 2026 sebesar 10,11%.

Peningkatan tersebut diperkirakan terutama berasal dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang didukung oleh berlanjutnya musim panen komoditas pangan dan tanaman perkebunan.

Selain itu, sektor pertambangan dan penggalian diproyeksikan meningkat seiring penurunan curah hujan yang mendorong aktivitas pertambangan. Sementara itu, sektor konstruksi juga diperkirakan menguat seiring dimulainya pengerjaan sejumlah proyek pada periode tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *