Pergerakan Bursa Asia-Pasifik pada Hari Jumat
Bursa saham Asia-Pasifik mengalami penurunan pada perdagangan hari Jumat (17/4/2026). Hal ini terjadi karena sentimen pasar masih dipengaruhi oleh ketidakpastian konflik Timur Tengah, meskipun ada perkembangan yang menunjukkan kemungkinan gencatan senjata.
Menurut data dari CNBC, indeks saham utama di kawasan Asia berada di zona merah. Nikkei 225 mengalami penurunan sebesar 0,7% setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi. Sementara itu, indeks Topix turun 0,62%. Di Korea Selatan, indeks Kospi mengalami penurunan sebesar 0,43%, dan Kosdaq terkoreksi 0,35%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 juga melemah sebesar 0,28%. Di sisi lain, futures Hang Seng menunjukkan indikasi pelemahan.
Perkembangan Gencatan Senjata di Timur Tengah
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah sepakat untuk menerapkan gencatan senjata selama 10 hari yang akan berlaku mulai pukul 17.00 waktu setempat. Pernyataan ini memberikan sedikit harapan bagi stabilitas wilayah tersebut.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran menegaskan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon menjadi syarat utama dalam memulai kembali negosiasi antara AS dan Iran. Trump juga menyebutkan bahwa pertemuan lanjutan antara AS dan Iran kemungkinan akan berlangsung pada akhir pekan depan. Ia bahkan mengklaim bahwa konflik dengan Iran “sangat dekat untuk berakhir”, dengan masa gencatan senjata dua pekan yang akan berakhir pada 21 April mendatang.
Harga Minyak Mengalami Penurunan
Dengan meredanya kekhawatiran jangka pendek, harga minyak mengalami koreksi. West Texas Intermediate (WTI) turun sebesar 1,43% ke level US$ 93,34 per barel. Sementara itu, Brent crude melemah 1,14% ke kisaran US$ 98,28 per barel. Meski demikian, volatilitas energi masih tinggi dan berpotensi memengaruhi pasar keuangan global, termasuk nilai tukar.
Kebijakan Moneter Jepang Diperhatikan
Dari Jepang, Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, menegaskan bahwa bank sentral harus mempertimbangkan tingkat suku bunga riil yang masih rendah dalam menentukan arah kebijakan moneter. Selain itu, Japan Bank for International Cooperation mengumumkan rencana pembentukan fasilitas investasi hingga 600 miliar yen untuk membantu negara-negara Asia dalam mengamankan pasokan energi.
Wall Street Cetak Rekor
Berbeda dengan bursa Asia, bursa saham Amerika Serikat justru ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 naik 0,26% ke 7.041,28, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,36% ke 24.102,70. Kenaikan ini membuat Nasdaq mencatat penguatan selama 12 sesi beruntun, yang merupakan yang terpanjang sejak 2009 dan mencetak rekor baru.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average juga naik 0,24% ke level 48.578,72. Pergerakan positif ini menunjukkan optimisme investor terhadap kondisi ekonomi AS.