Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga dan Strategi Pendanaan Perbankan
Dewa News -.CO.ID – JAKARTA.
Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang terus meningkat lebih pesat dibandingkan pertumbuhan kredit menunjukkan bahwa perbankan masih memiliki kecukupan likuiditas. Namun, sejumlah bank tetap memilih untuk menerbitkan surat utang atau obligasi sebagai langkah antisipasi terhadap kebutuhan dana di masa depan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa DPK perbankan pada Februari 2026 tumbuh sebesar 13,18% secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan total mencapai Rp 10.102 triliun. Meskipun pertumbuhan ini sedikit melandai dari 13,48% yoy pada bulan sebelumnya, angka tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit yang hanya sebesar 9,37% yoy menjadi Rp 8.559 triliun.
Meski demikian, OJK tetap menargetkan pertumbuhan kredit bisa mencapai antara 10% hingga 12% hingga akhir tahun ini. Untuk itu, kepala divisi Financial Institutions Rating Division Pefindo, Danan Dito, menyatakan bahwa kecukupan likuiditas harus terus dijaga oleh perbankan.
Menurut Danan Dito, posisi likuiditas bank, khususnya bank milik negara (Himbara), masih tergolong kuat. Ia menjelaskan bahwa bank-bank pelat merah memiliki profil kredit yang solid serta peringkat tertinggi dan prospek stabil.
“Walaupun risiko secara makro dan industri meningkat, dari sisi finansial ketahanan mereka sangat kuat,” ujar Danan dalam konferensi pers, Rabu (15/4/2026).
Danan juga menilai bahwa pengalaman saat pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan tetap tinggi. Pada masa ketidakpastian, dana masyarakat justru cenderung mengalir ke perbankan karena dianggap sebagai tempat penyimpanan dana yang aman. “Jadi justru menjadi safe haven, dana-dana banyak mengalir ke bank,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan DPK yang mulai melandai lebih dipengaruhi oleh ekspektasi perlambatan pertumbuhan ekonomi ke depan. Selain itu, pertumbuhan simpanan juga akan menyesuaikan dengan laju ekspansi kredit.
Di tengah kondisi likuiditas yang relatif longgar, bank-bank tetap aktif menghimpun dana dari pasar modal melalui penerbitan obligasi.
Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto, menjelaskan bahwa pada kuartal I-2026, terdapat empat bank yang telah menerbitkan surat utang dengan nilai total Rp 8,7 triliun. Salah satu bank BUMN bahkan melakukan penerbitan lebih dari sekali, yakni pada Januari dan Maret 2026.
Sementara itu, masih ada enam mandat penerbitan senilai Rp 9,18 triliun dari sektor perbankan yang belum listing. Komposisinya seimbang, dengan tiga berasal dari kelompok BUMN dan tiga dari bank swasta.
Menurut Suhindarto, aktivitas penerbitan obligasi menunjukkan bahwa bank tidak hanya mengandalkan dana murah dari simpanan nasabah, tetapi juga menjaga fleksibilitas struktur pendanaan untuk menopang pertumbuhan bisnis ke depan.
Salah satu bank yang masih aktif menerbitkan obligasi adalah Bank Tabungan Negara (BTN). Tahun ini, tepatnya pada semester II nanti, bank menargetkan penerbitan obligasi sebesar Rp 4 triliun untuk memperkuat likuiditas dan mendukung penyaluran kredit.
Menariknya, penerbitan obligasi ini tetap dilakukan meski BTN sudah mendapat tambahan likuiditas sebesar Rp 10 triliun dari pemerintah. Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena sumber dana tersebut tidak bisa saling menggantikan.
“Kalau obligasi itu kan panjang (tenornya), bisa lima sampai tujuh tahun. Kalau likuiditas tambahan ini dapat ditarik sewaktu-waktu,” jelas Nixon. Di samping itu, Nixon bilang bahwa secara manajemen liabilitas dua sumber dana tersebut memiliki perbedaan setidaknya dalam hal pricing dan risiko suku bunga.
Tren pertumbuhan kredit BTN yang masih terbilang kencang menjadi alasan bank tetap fokus menghimpun dana di tengah kecukupan likuiditas saat ini. “Tahun lalu saja (tumbuh) double digit. Jadi kami memang butuh likuiditas,” imbuh Nixon.
Agak berbeda, CIMB Niaga justru belum melihat kebutuhan penerbitan obligasi dalam waktu dekat. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa penerbitan obligasi bersifat fleksibel sesuai kebutuhan bank.
“Obligasi stand by saja hanya jika dibutuhkan. Kami belum melihat ada kebutuhan saat ini,” ungkapnya.
Pasalnya, Lani bilang posisi likuiditas bank saat ini masih cukup solid. Pun, pihaknya belum melihat permintaan kredit bakal melaju kencang dalam waktu dekat. Untuk tahun ini saja, bank memproyeksi kredit tumbuh di rentang 3% – 5%, membuka potensi perlambatan dari pertumbuhan 4,5% pada tahun lalu.