Pendapatan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menunjukkan peningkatan yang signifikan seiring dengan penerapan strategi penyesuaian harga yang mulai memberikan hasil. Perbaikan ini mencerminkan upaya perusahaan dalam meningkatkan kualitas layanan dan memperkuat posisi di pasar telekomunikasi.
Menurut analis dari Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, strategi penyesuaian harga telah berhasil meningkatkan monetisasi pelanggan. Hal ini terlihat dari kenaikan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) gabungan menjadi Rp 44.800, naik 9,27% secara tahunan. Selain itu, yield data juga meningkat menjadi Rp 2.705 per GB, naik 2,61% secara kuartalan.
Perbaikan kinerja ini turut mendukung pertumbuhan segmen Data dan Layanan Digital, sehingga pendapatan EXCL pada 2025 meningkat sebesar 23,42% menjadi Rp 42,45 triliun. Dengan demikian, EXCL berada di jalur yang tepat untuk memasuki fase pembuktian pada 2026.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memproyeksikan kuartal II-2026 akan menjadi periode penting bagi EXCL. Menurutnya, pendapatan pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 46,46 triliun, dengan laba bersih yang berbalik positif setelah rugi sebesar Rp 4,42 triliun pada 2025.
Prospek tersebut didukung oleh tren kenaikan ARPU yang telah mencapai Rp 44.800 pada kuartal IV-2025, serta kinerja segmen business-to-business (B2B) yang sesuai target. Permintaan konektivitas korporasi juga semakin meningkat, yang membantu pertumbuhan perusahaan.
Namun, Abida mengingatkan beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada kuartal II-2026. Antara lain, kecepatan pemulihan ARPU di tengah tekanan daya beli masyarakat, hasil lelang spektrum yang akan menentukan daya saing jaringan, serta dampak pelemahan rupiah terhadap biaya infrastruktur yang masih bergantung pada impor perangkat.
Aditya Prayoga juga menyatakan bahwa pertumbuhan pendapatan EXCL pada 2026 akan sejalan dengan industri. Ia memperkirakan EBITDA dapat tumbuh sekitar dua kali lipat dari laju pertumbuhan pendapatan, yang mencerminkan fokus pada ekspansi berkualitas dan leverage operasional pasca integrasi.
Dari sisi belanja modal, EXCL mengalokasikan sekitar Rp 15 triliun untuk memperkuat jaringan dan meningkatkan kualitas layanan, sekaligus membuka peluang sinergi dari proses merger. Namun, manajemen memperkirakan biaya integrasi masih akan membebani kinerja jangka pendek, dengan estimasi mencapai Rp 1 triliun sepanjang 2026.
Abida menambahkan, tantangan lain berasal dari kebutuhan belanja modal yang diperkirakan mencapai antara Rp 15 triliun hingga Rp 20 triliun, yang berpotensi menekan arus kas bebas menjadi negatif. Selain itu, persaingan harga dari PT Indosat Tbk yang agresif di segmen premium juga menjadi risiko yang perlu diperhatikan.
Dalam hal rekomendasi, Abida merekomendasikan buy untuk EXCL dengan target harga Rp 3.500 per saham. Sementara itu, Aditya merekomendasikan hold dengan target harga Rp 3.100 per saham.
EXCL Chart
by TradingView