19 April 2026
AA1ZMOLh.jpg

Kenaikan Harga Tepung Beras Mengancam Pelaku UMKM di Cirebon

Kenaikan harga tepung beras dalam beberapa bulan terakhir mulai memberi dampak signifikan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan di Cirebon, Jawa Barat. Hal ini khususnya terasa oleh produsen kue tradisional yang menjadikan tepung beras sebagai bahan baku utama.

Di sentra Kampung Kue Pekantingan, Kabupaten Cirebon, sejumlah pelaku usaha mengaku terpaksa melakukan berbagai strategi untuk mengatasi lonjakan harga. Beberapa di antaranya memilih mengecilkan ukuran produk atau mengurangi volume produksi agar biaya tetap terkendali.

Dampak Kenaikan Harga Bahan Baku

Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga beras pecah lokal yang menjadi sumber utama bahan baku tepung beras. Pelaku UMKM, Wenny (39), mengatakan bahwa harga tepung beras kemasan ukuran 500 gram saat ini mencapai Rp7.900 per bungkus. Angka ini dinilai cukup memberatkan, terutama karena kenaikan juga terjadi pada bahan baku lain seperti gula pasir.

“Kami tidak berani menaikkan harga jual karena khawatir konsumen komplain. Jadi terpaksa ukuran kue diperkecil,” ujar Wenny saat ditemui di Kampung Kue Pekantingan, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa produk kue tradisional seperti talam dan lapis yang biasanya dijual seharga Rp1.600 per potong kini mengalami penyesuaian ukuran agar biaya produksi tetap tertutupi. Selain itu, Wenny juga mulai mengalihkan produksi ke jenis kue yang tidak menggunakan tepung beras, seperti botok roti, guna menekan biaya.

Pengalaman Pelaku Usaha Lain

Kondisi serupa dialami Diki (51), pelaku usaha kue tradisional lainnya di kawasan tersebut. Ia menyebut harga tepung beras dalam kemasan karton kini mencapai Rp154.000 atau sekitar Rp15.400 per kilogram. Kenaikan ini dinilai cukup drastis dibandingkan periode sebelumnya.

“Harga naiknya tidak kira-kira. Mau tidak mau ukuran kue juga diperkecil supaya tetap bisa jualan,” kata Diki.

Diki yang telah berjualan selama puluhan tahun mengaku kondisi ini berdampak langsung pada penurunan produksi. Bahkan, pada periode Ramadan yang biasanya menjadi momentum peningkatan permintaan, ia justru mengalami penurunan pesanan.

“Sekarang malah sepi. Saya sampai berhenti produksi sementara karena tidak ada orderan,” ujarnya.

Menurut Diki, ketidakstabilan harga bahan baku membuat pelaku usaha sulit menentukan strategi bisnis. Jika harga terus naik, ia khawatir keberlangsungan usaha kecil seperti miliknya akan semakin terancam.

Penyebab Kenaikan Harga Tepung Beras

Kenaikan harga tepung beras sendiri tidak terlepas dari perubahan pasokan bahan baku di tingkat industri. Penghentian impor beras pecah untuk kebutuhan industri membuat produsen tepung beras beralih ke beras pecah lokal yang memiliki harga lebih tinggi.

Di tingkat penggilingan, harga beras pecah lokal saat ini berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogram. Angka tersebut jauh di atas harga beras pecah impor yang sebelumnya berkisar Rp5.700 hingga Rp6.100 per kilogram.

Perbedaan harga ini berdampak langsung pada biaya produksi tepung beras yang kemudian diteruskan ke pelaku UMKM sebagai konsumen akhir bahan baku.

Harapan Pelaku UMKM

Pelaku UMKM di Cirebon berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan baku, khususnya tepung beras. Stabilitas dinilai penting agar usaha kecil tetap mampu bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.

Selain itu, mereka juga berharap adanya kebijakan yang dapat menyeimbangkan kepentingan industri nasional dengan keberlangsungan usaha kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *