Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Bantaran Rel Kereta Api di Jakarta Pusat
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke kawasan permukiman bantaran rel kereta api di Senen, Jakarta Pusat, menjadi momen yang menarik perhatian warga setempat. Berbagai harapan muncul dari masyarakat yang sebelumnya hidup dalam kondisi tidak layak. Mereka berharap adanya solusi nyata dari pemerintah terkait perumahan.
Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta, menyampaikan bahwa isu hunian di lokasi tidak layak, termasuk bantaran rel, bukanlah hal baru bagi Jakarta. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah telah melakukan penanganan secara bertahap. Salah satu langkah yang dilakukan adalah relokasi warga yang tinggal di area TPU (Tempat Pemakaman Umum) ke rumah susun yang disediakan oleh pemerintah.
“Pemerintah DKI Jakarta memberi support apa yang dilakukan pemerintah pusat untuk penanganan perumahan yang ada di sepanjang rel kereta api,” ujar Pramono Anung. Menurutnya, pendekatan relokasi tersebut cukup efektif karena membuat kawasan lebih tertata dan membantu warga beradaptasi dengan hunian vertikal.
Solusi Nyata untuk Warga Bantaran Rel
Bagi Imah (45), peristiwa pada Kamis (26/3/2026) terasa seperti mimpi yang nyata. Di tengah hiruk-pikuk bantaran rel Stasiun Pasar Senen, ia tiba-tiba bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto. Selain mendapatkan amplop berisi Rp 2 juta, kunjungan itu juga menyisakan puing di tempat tinggalnya.
Imah, yang sehari-hari menggantungkan hidup dari memulung botol bekas, mengaku tak menyangka akan bertemu orang nomor satu di Indonesia tersebut. “Pak Prabowo tiba-tiba bagi-bagi rezeki,” kata Imah saat ditemui.
Uang sebesar Rp 2 juta yang diterimanya begitu berarti bagi Imah, yang biasanya hanya mengantongi Rp 35 ribu hasil memulung selama dua minggu. Namun, pemberian itu menyisakan tanda tanya. Tanpa pesan khusus maupun penjelasan peruntukan, uang tersebut diserahkan langsung oleh ajudan presiden.
Kebiasaan Baru Setelah Kunjungan Presiden
Ironisnya, kegembiraan menerima bantuan itu hanya bertahan sekejap. Beberapa jam setelah kunjungan presiden, ada instruksi pembongkaran bangunan di bantaran rel. Kini, rumah semi-permanen yang ia huni selama dua tahun terakhir telah rata dengan tanah.
Imah yang biasanya tidur di bawah atap terpal kini harus memutar otak. Uang bantuan dari presiden yang sedianya bisa digunakan untuk modal hidup, kini terpaksa dialihkan untuk mencari tempat bernaung. “Ngontrak dulu,” kata Imah lemas.
Meski kini harus mengungsi, Imah tidak menutup diri terhadap rencana relokasi ke rumah susun. Baginya, hidup layak adalah impian, namun urusan perut tetap menjadi prioritas utama. Ia bersedia pindah asalkan lokasinya tidak menjauhkan dirinya dari tumpukan botol bekas dan aliran kali tempatnya mencari rezeki.
“Kalau dikasih rusun saya happy, tapi jangan jauh, saya cari duitnya di sini,” ujarnya. Imah hanya bisa berharap, Rp 2 juta itu cukup kuat untuk menyambung napasnya hingga menemukan dinding tembok yang lebih kokoh untuk bersandar.