19 April 2026
AA1Z2Uqs.jpg

Perang di Timur Tengah Mendorong Kembali Mengandalkan Batu Bara

Perang di kawasan Timur Tengah telah mengubah pola penggunaan energi di berbagai negara Asia. Sejumlah negara mulai kembali memprioritaskan batu bara sebagai sumber pembangkit listrik setelah konflik yang semakin intens mengganggu pasokan gas alam cair (LNG) dari kawasan eksportir utama.

Salah satu negara yang terdampak paling parah adalah Qatar, yang merupakan rumah bagi fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia. Fasilitas Ras Laffan Industrial City dilaporkan mengalami kerusakan signifikan akibat meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia. Akibatnya, sekitar 17% kapasitas produksi LNG Qatar rusak, sehingga mengurangi pasokan ke pasar Asia.

Di tengah ketidakstabilan pasar gas global dan lonjakan harga, negara-negara Asia mulai mencari alternatif sumber energi. Salah satu pilihan tercepat adalah kembali mengandalkan batu bara, yang selama ini menjadi bahan bakar utama dalam bauran energi mereka.

Analis Rystad Energy, Sam Chua, menjelaskan bahwa batu bara telah lama menjadi dominan dalam bauran energi pembangkit listrik di Asia. Kontribusi batu bara mencapai lebih dari 40% hingga 50% di kawasan tersebut. Namun, saat ini terjadi percepatan penurunan permintaan gas karena LNG menjadi terlalu mahal bagi pembeli yang sensitif terhadap harga.

Contoh nyata terjadi di Bangladesh, di mana negara tersebut mengurangi pasokan gas ke pembangkit listrik dan industri pupuk, lalu beralih ke kapasitas pembangkit berbasis batu bara. Chua memperkirakan pola serupa akan terjadi di negara-negara lain di Asia Selatan dan Asia Tenggara, karena pemerintah berupaya menghindari risiko pemadaman listrik yang bisa memicu dampak politik.

Selain itu, penutupan de facto jalur pelayaran di Selat Hormuz membuat pengiriman gas menjadi hampir mustahil dilakukan. Hal ini menambah tekanan pada pasokan energi di kawasan. Lonjakan harga gas juga merembet ke pasar batu bara. Harga kontrak berjangka batu bara Newcastle, yang menjadi acuan kawasan Asia Pasifik, melonjak ke level tertinggi sejak akhir 2024.

Kondisi ini mendorong produsen batu bara di kawasan untuk meningkatkan ekspor. Indonesia, sebagai pemasok terbesar dunia, bahkan mengizinkan perusahaan tambang meningkatkan produksi, berbalik dari kebijakan sebelumnya yang membatasi output untuk menjaga harga.

Beberapa negara juga mengambil langkah lain. Korea Selatan mencabut batas kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara, sementara produsen listrik terbesar di Jepang membuka kemungkinan beralih ke batu bara apabila gangguan pasokan energi dari Timur Tengah berlanjut. Di sisi lain, Filipina tengah berunding dengan Indonesia untuk mengamankan tambahan pasokan batu bara guna memastikan stabilitas pasokan listrik.

Kecenderungan kembali ke bahan bakar fosil paling kotor tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan ekonomi saat ini mengalahkan target lingkungan. Gangguan energi di Timur Tengah memunculkan keraguan terhadap gas alam yang selama ini dipromosikan sebagai jembatan menuju energi terbarukan.

Dalam waktu dekat, pemerintah di Asia juga berpacu dengan waktu menjelang musim panas, ketika gelombang panas meningkatkan penggunaan pendingin udara dan biasanya mendorong permintaan listrik ke puncaknya. Dengan situasi ini, kembali mengandalkan batu bara menjadi pilihan yang dianggap paling cepat dan efisien untuk memenuhi kebutuhan energi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *