27 April 2026
AA1UvjNm.jpg



Penguatan Harga Nikel Berdampak Positif pada Saham Emiten Nikel

Hari ini, Kamis (12/2/2026), saham sejumlah emiten produsen nikel terpantau mengalami kenaikan signifikan. Peningkatan ini terjadi di tengah penguatan harga nikel pasca pemangkasan kuota produksi Indonesia dari PT Weda Bay Nickel untuk tahun 2026.

Beberapa emiten yang mencatatkan kenaikan antara lain:

  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Saham ANTM naik 3,26% pada perdagangan hari ini ke Rp 4.120 per saham. Dalam sebulan terakhir, sahamnya naik 0,73%, sementara sejak awal tahun atau year to date (YTD) telah meningkat 30,79%.

  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO): INCO juga mengalami kenaikan sebesar 3,65% hari ini, dengan harga saham mencapai Rp 7.100 per saham. Dalam sebulan terakhir, saham INCO naik 10,94%, dan YTD mencapai 37,2%.

  • PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL): Saham NCKL naik 4,61% ke Rp 1.475 per saham. Dalam sebulan terakhir, kenaikan saham NCKL sebesar 4,61%, sedangkan YTD mencapai 31,11%.

Analisis dari Pakar Pasar

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menyatakan bahwa pemangkasan produksi dari perusahaan besar seperti PT Weda Bay Nickel memberikan efek kejut pada suplai global, sehingga langsung mendongkrak harga nikel. Ia menilai, investor melihat pengetatan kuota RKAB sebagai upaya pemerintah untuk menyeimbangkan pasar global agar harga tidak jatuh terlalu dalam akibat oversupply.

“Efeknya, saham emiten nikel yang memiliki efisiensi biaya tinggi akan menjadi buruan investor,” ujar David kepada Dewa News.

Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai kondisi ini positif berdampak positif untuk mendorong harga saham jangka pendek. Menurutnya, pasar merespons kenaikan harga jual global yang bisa memperbaiki margin.

“Pemangkasan kuota dilihat sebagai langkah strategis pemerintah mengontrol pasokan untuk mendongkrak harga komoditas dan mengakhiri era oversupply,” tambahnya.

Prediksi Kinerja Sektor Nikel Tahun 2026

Secara keseluruhan, kinerja sektor nikel di tahun 2026 diprediksi akan mengalami konsolidasi dengan potensi perbaikan margin. Namun, volume penjualan mungkin akan sedikit tertahan.

David melihat tiga hal utama yang menjadi sentimen pendorong kinerja sektor nikel:

  • Pertama, kenaikan average selling price (ASP) lantaran penurunan kuota produksi global dari 379 juta ton ke kisaran 260-270 juta ton.
  • Kedua, penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) ke level 4,25% akan menurunkan beban bunga bagi emiten yang sedang melakukan ekspansi smelter.
  • Ketiga, harga minyak Brent yang diproyeksikan ada di kisaran US$ 64 per barel bisa membantu menekan biaya operasional penambangan.

Di sisi lain, sentimen pemberat berasal dari pembatasan volume produksi dan kondisi ekonomi China, mitra dagang utama Indonesia, yang masih tertekan deflasi.

Prospek Emiten NIKEL

Davi melihat NCKL dinilai prospektif di tahun 2026 karena didorong pertumbuhan kapasitas berkat integrasi HPAL yang kuat untuk ekosistem baterai EV.

“Sementara ANTM diunggulkan karena diversifikasi ke komoditas emas yang saat ini sedang dipacu oleh bank sentral global (PBOC),” paparnya.

Wafi pun merekomendasikan NCKL, ANTM, dan INCO dengan target harga masing-masing Rp 100 per saham, Rp 4.450 per saham, dan Rp 8.200 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *