27 April 2026
kenapa-wamenkeu-yakin-pertumbuhan-ekonomi-55-persen-per-kuartal-i

WAKIL Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung optimistis ekonomi Indonesia di kuartal pertama tahun ini tumbuh 5,5 persen atau meningkat dari kuartal sebelumnya 5,39 persen. Pemerintah baru akan merilis data pertumbuhan ekonomi triwulanan pada 5 Mei mendatang.

“Proyeksi Kementerian Keuangan, pertumbuhan di triwulan I diperkirakan 5,5 persen,” ucap Juda dalam agenda Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (Pinisi) di kantor pusat BI, Jakarta, Senin, 27 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini menyatakan alasan di balik keyakinan tersebut adalah meningkatnya pendapatan negara, khususnya pajak. Juda menyatakan secara rata-rata, dari awal tahun hingga Maret 2026, penerimaan pajak tumbuh 20,3 persen.

Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang naik 57,7 persen. Indikator tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi, baik konsumsi maupun transaksi industri atau dunia usaha telah tumbuh cukup baik. 

“PPN dan PPnBM jelas digunakan untuk transaksi konsumsi, transaksi pembelian barang, baik itu barang retail maupun barang untuk dunia usaha,” kata dia.

Sepanjang triwulan pertama 2026, penerimaan negara tercatat Rp 574,9 triliun, atau tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan belanja negara melonjak 31,4 persen menjadi Rp 815 triliun. Sehingga anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di tiga bulan pertama mengalami defisit Rp 240,1 triliun.

Kementerian Keuangan menerapkan strategi belanja jor-joran di awal tahun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Juda memaparkan Karena Kemenkeu ingin mengubah pola pengeluaran pemerintah. “Jadi ini memang tujuannya agar pertumbuhan ekonomi itu merata, cepat, dan terjadi di tahun yang sama.”Ia mengklaim strategi ini berhasil meningkatkan pertumbuhan konsumsi di awal tahun. Meski demikian, Juda mengakui konsumsi pada Maret sedikit melambat, dipengaruhi ekspektasi kondisi ekonomi ke depan karena dampak perang di Timur Tengah.

Pilihan Editor:  Saat Ini Ketidakpastian Ekonomi Terlihat Lebih Besar

Besar Utang daripada Tiang

Besar Utang daripada Tiang

Bagaimana Prospek Bisnis Retail Setelah Terjadi Perang Iran

Rekor Terlemah Kurs Rupiah

Sinyal Waspada Keuangan Negara

Keraguan Pasar Tatkala Pemerintah Optimistis

Pertumbuhan yang Terasa Jauh dari Realitas

Pemerintah Besar Menguji Pasar

Tahun Pertama Prabowo: Nilai Tukar Rupiah Rontok

Holding Maskapai BUMN Terbentuk Tahun Depan

Kenapa Wamenkeu Yakin Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen per Kuartal I

Lahan Torganda akan jadi Pilot Project Peremajaan Sawit

Krakatau Steel Dapat Dana Segar Rp 5 Triliun dari Danantara

PGE, UGM dan Agrotekno Produksi Pupuk Ramah Lingkungan

Kemenperin Jelaskan Upaya Dekarbonisasi di Industri Semen

KLH Apresiasi Pertamina Geothermal Dorong Ekonomi Sirkular

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *