Program Gentengisasi: Peluang dan Tantangan bagi Industri Lokal
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajak industri dalam negeri untuk bersiap menghadapi program gentengisasi yang diusung oleh pemerintah. Program ini bertujuan untuk mengganti atap seng dengan genteng, sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), yang mewadahi industri genteng, menyatakan kesiapan mereka untuk mendukung program tersebut.
Program gentengisasi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026. Dalam program ini, empat pilar utama diterapkan, yaitu estetika, identitas, kenyamanan, dan ekonomi. Dari segi ekonomi, pemerintah berharap program ini dapat mendorong pertumbuhan industri genteng lokal, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi peluang ini. Menurutnya, genteng memiliki keunggulan seperti ketahanan terhadap cuaca, ramah lingkungan, serta nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan atap seng.
Kesiapan Industri Genteng
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menyampaikan bahwa industri genteng saat ini sudah siap mendukung program gentengisasi. Saat ini, terdapat tiga perusahaan produsen genteng yang menjadi anggota Asaki. Kapasitas produksi mencapai 85 juta meter persegi per tahun, dengan tingkat utilisasi produksi lebih dari 90%.
Edy menjelaskan bahwa dua pabrik genteng berada di Jawa Barat, sedangkan satu pabrik lainnya berada di Jawa Timur. Meskipun belum merinci profil masing-masing perusahaan, ia menekankan bahwa industri genteng telah memiliki pasar tersendiri dan tingkat utilisasi yang tinggi.
Dengan adanya program gentengisasi, Edy optimistis akan ada ekspansi dan peningkatan kapasitas produksi. Ia memperkirakan bahwa ekspansi membutuhkan waktu sekitar 9 hingga 12 bulan. Ia juga menegaskan bahwa industri siap melakukan inovasi dan ekspansi jika program ini mendapatkan kepastian.
Tantangan dan Permintaan Dukungan
Selain kepastian pelaksanaan program, Asaki meminta dukungan pemerintah dalam dua hal, yaitu pasokan gas industri dengan harga kompetitif dan kepastian sumber bahan baku, terutama tanah liat. Gas merupakan bahan bakar utama dalam proses produksi genteng, sehingga kestabilan pasokannya sangat penting.
Edy juga menyampaikan keluhan tentang gangguan pasokan tanah liat sejak kuartal IV-2025 lalu akibat pencabutan dan moratorium izin pertambangan di Jawa Barat. Jawa Barat merupakan pemasok utama bahan baku industri keramik, dengan kontribusi mencapai 50% hingga 60%. Ia berharap pemerintah daerah segera menemukan solusi agar produksi tidak terhambat.
Langkah Penyelesaian Masalah
Menperin mengaku telah menghubungi Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) untuk membahas masalah ini. Ia juga meminta Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) untuk segera berkomunikasi dengan Pemda Jabar guna mencari solusi.
Selain itu, Asaki membuka peluang untuk melakukan inovasi dan mencari bahan alternatif, seperti abu halus sisa pembakaran batubara (fly ash). Namun, Edy menegaskan bahwa penggunaan bahan alternatif ini masih memerlukan riset dan pengembangan (R&D) terlebih dahulu. Ia menyatakan bahwa selama uji coba dan riset bisa dimanfaatkan, maka pihaknya akan memanfaatkannya.