19 April 2026
IMG_20240926_184941.jpg

Kerusakan Padi di Desa Sruni Akibat Serangan Tikus

Puluhan hektare tanaman padi di Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami kerusakan parah akibat serangan hama tikus. Kondisi ini membuat para petani khawatir akan terjadinya gagal panen.

Tanaman padi yang baru berusia sekitar satu bulan di wilayah Dusun Darungan, Desa Sruni, tampak rusak. Batang padi banyak yang patah, sementara sebagian lainnya mengering dan mati. Serangan tikus ini tidak hanya merusak padi, tetapi juga tanaman lain seperti kacang dan ketimun.

Dampak Serangan Tikus yang Mengancam Panen

Menurut salah satu petani, Muhammad Muklis, lahan yang terdampak mencapai sekitar 30 hektare. Ia menjelaskan bahwa serangan hama tikus sudah terjadi sejak awal masa tanam. Bahkan, padi yang baru berusia tiga hari sudah mulai dirusak, sehingga petani terpaksa melakukan tanam ulang.

“Kalau padi diserang sejak masih sangat muda, akhirnya petani harus tanam ulang. Untuk ketimun, kalau buahnya sudah besar yang dimakan buahnya, tapi kalau masih kecil justru batangnya yang dimakan,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, banyak petani memilih menunda pemupukan. Mereka khawatir biaya pupuk menjadi sia-sia karena tanaman tetap habis dimakan tikus. Petani baru berani memupuk kalau padinya sudah tidak dimakan tikus.

Upaya Pengendalian Hama yang Belum Efektif

Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk mengendalikan hama, mulai dari memasang umpan jagung bercampur racun di lubang-lubang tikus. Namun, cara tersebut dinilai belum efektif. Walaupun ada sebagian tikus yang mati, tapi masih banyak juga yang tetap memakan tanaman petani.

Hal senada disampaikan oleh Suhada, petani lainnya. Ia menilai perilaku tikus yang menyerang tanaman padi terkesan merusak tanpa tujuan konsumsi penuh. “Kadang tikus itu hanya memotong daun padi yang masih muda. Apalagi setelah dipupuk, daun jadi lebih hijau dan itu yang dimakan, akhirnya tanaman mati,” ungkap Suhada.

Harapan Petani untuk Penanganan Lebih Serius

Para petani berharap adanya perhatian dan langkah penanganan yang lebih serius dari pihak terkait agar serangan hama tikus dapat dikendalikan dan ancaman gagal panen dapat diminimalkan.

Tikus yang menyerang tanaman padi tidak hanya mengganggu proses pertumbuhan tanaman, tetapi juga memberikan tekanan ekonomi bagi para petani. Dengan serangan yang terus-menerus, mereka harus menghadapi risiko kehilangan hasil panen dan meningkatkan biaya produksi.

Petani juga menyadari bahwa upaya pengendalian hama yang saat ini dilakukan belum cukup efektif. Mereka berharap adanya inovasi atau metode pengendalian yang lebih efektif dan ramah lingkungan.

Tantangan yang Dihadapi Petani

Selain masalah tikus, petani juga menghadapi tantangan lain seperti cuaca yang tidak menentu dan kurangnya akses informasi tentang teknik pertanian modern. Hal ini memperparah situasi yang sudah sulit.

Dalam situasi seperti ini, kolaborasi antara petani, pemerintah, dan lembaga pendidikan menjadi penting. Dengan dukungan yang tepat, petani bisa lebih siap menghadapi ancaman-ancaman seperti serangan hama tikus.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *