Kampung Bedono di Demak Berjuang Melawan Abrasi dengan Konservasi Mangrove
Di kawasan pesisir Kabupaten Demak, khususnya di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, abrasi terus menggerogoti daratan. Banyak kampung yang tenggelam, seperti Dusun Rejosari, Mondoliko, dan Tambaksari. Namun, Dusun Bedono berhasil bertahan berkat upaya komunitas lokal yang peduli lingkungan.
Komunitas Bumi Hijau dibentuk pada Desember 2022 oleh Saiful Rozi (38 tahun) sebagai wadah warga yang ingin menjaga keberlangsungan kampung mereka. Anggota komunitas ini terdiri dari sekitar 15 orang, mayoritas nelayan dan satu warga pekerja pabrik. Mereka memprioritaskan konservasi hutan mangrove yang menjadi benteng alami untuk melindungi kawasan pesisir dari abrasi.
Saiful menjelaskan bahwa kampung Bedono pada era 1980-an masih berupa persawahan. Pada 1992, kawasan ini berubah menjadi tambak. Sejak 2010, abrasi mulai mengancam. Jarak rumah Saiful dengan laut pada 1992 mencapai 2 kilometer, namun pada 2014, laut sudah berada tepat di belakang rumahnya.
Tiga dusun di Desa Bedono, yaitu Rejosari, Mondoliko, dan Tambaksari, telah hilang akibat abrasi. Sementara itu, Dusun Pandansari, Tonosari, Bedono, dan Morosari masih tersisa. Warga yang tinggal di RT 4 RW 1, Desa Bedono, mulai pindah sejak 2014 karena sering terkena banjir rob. Kini, hanya tersisa 19 KK di RT 3 RW 1 dari total 53 KK.
Hutan Mangrove sebagai Benteng Alami
Hutan mangrove menjadi penopang utama kampung Bedono dalam melawan abrasi. Saiful dan komunitasnya meyakini bahwa menjaga mangrove memberikan “napas panjang” bagi eksistensi kampung. Sebelum komunitas terbentuk, penanaman mangrove dilakukan secara sporadis dan tidak terkoordinasi. Setelah ada komunitas, penanaman lebih terarah dan terpetakan.
Saat ini, luasan hutan mangrove di Bedono mencapai sekitar 9 hektare, terdiri dari jenis mangrove Bongko dan Api-api. Lima hektare hutan didominasi mangrove usia 15-25 tahun, sedangkan empat hektare sisanya merupakan kawasan baru berusia di bawah 5 tahun. Komunitas juga memiliki area baru yang bisa ditanam sekitar 5 hektare, tetapi hanya 2 hektare yang sudah ditanam.
Mangrove berfungsi sebagai benteng alami yang memecah gelombang dan mencegah abrasi. Hal ini membuat Dusun Bedono bertahan lebih lama dibandingkan dusun lain di Desa Bedono. Misalnya, Dusun Pandansari yang tidak memiliki mangrove lebih cepat tenggelam.
Selain manfaat ekologis, mangrove juga memberikan manfaat ekonomi. Nelayan dapat menangkap udang, kepiting, dan biota lainnya yang hidup di sekitar hutan mangrove. Selain itu, warga juga membuat produk olahan mangrove seperti sirup dan keripik daun mangrove. Buah mangrove juga bisa dijual mentah atau dibuat menjadi makanan khas bernama brayo.
Tantangan dalam Konservasi Mangrove
Meski komunitas Bumi Hijau berhasil menjaga hutan mangrove, mereka menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah pembalakan liar yang menyasar pohon mangrove berusia di atas 15 tahun. Pembalak menyebar batang mangrove untuk membangun tiang rumah. Namun, masalah ini telah teratasi dengan adanya patroli rutin dari nelayan dan polisi.
Kendala lainnya adalah ancaman hama ulat bulu yang pernah mematikan banyak pohon mangrove pada 2019. Meskipun hama ini muncul kembali pada 2025, dampaknya tidak separah tahun sebelumnya.
Saiful percaya bahwa konservasi mangrove adalah jalan panjang. Ia selalu melibatkan anak-anak dalam proses penanaman mangrove sebagai langkah regenerasi. Ia meyakini bahwa kegiatan sosial yang dilakukan secara sukarela akan lebih konsisten.
Perlu Dukungan Pihak Lain
Staf Kajian dan Pengelolaan Pengetahuan WALHI Jawa Tengah, Bagas Kurniawan, menilai bahwa penanganan masalah lingkungan, terutama di pesisir, memerlukan kolaborasi antar pihak. Komunitas Bumi Hijau menjadi contoh bagaimana kelompok berbasis warga dapat menciptakan ruang partisipasi dalam penyelesaian masalah lingkungan.
Namun, komunitas seperti ini juga menghadapi tantangan internal, seperti kesadaran warga dalam berkelompok dan kurangnya pengetahuan tentang manajemen kelompok. Selain itu, keterbatasan sumber daya juga menjadi kendala.
Untuk itu, dukungan dari pihak eksternal sangat penting agar inisiatif seperti komunitas Bumi Hijau dapat berkembang dan bertahan lebih lama.