19 April 2026
AA1VmB9M.jpg



Pembangunan industri baterai di Indonesia semakin menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Tiga perusahaan besar, yaitu PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam, PT Industri Baterai Indonesia, dan HYD Investment Limited, telah melakukan penandatanganan kerangka kerja sama dalam pembangunan ekosistem baterai yang terintegrasi. HYD merupakan gabungan dari Huayou dan EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk.

Penandatanganan ini dilakukan di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jumat, 30 Januari 2026, dan disaksikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Katarsamita, serta sejumlah direktur dari Badan Usaha Milik Negara.

Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari negosiasi yang cukup panjang. “Saya masih menjabat sebagai Kepala BKPM waktu itu. Kami berupaya mendorong realisasi dan membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi,” ujarnya.

Menurut Bahlil, tujuan utama dari kolaborasi ini adalah untuk mempercepat program hilirisasi mineral guna mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Fokus utama kebijakan ini adalah pengembangan industri baterai kendaraan listrik yang berbasis nikel.

Ia menjelaskan bahwa kepemilikan mayoritas proyek akan dikuasai oleh ANTAM sebagai badan usaha milik negara. Hal ini sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. “Arahan Bapak Presiden Prabowo jelas, dalam pengelolaan sumber daya alam kita harus memprioritaskan kepentingan negara,” tambahnya.

Meski demikian, Bahlil mengakui bahwa Indonesia masih membutuhkan mitra asing, khususnya dalam hal transfer teknologi, penguasaan pasar global, dan manajemen industri. Penandatanganan kerangka kerja sama ini menjadi penegasan komitmen agar investasi berjalan saling menguntungkan tanpa mengesampingkan kepentingan nasional.

Proyek ekosistem baterai ini dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 20 gigawatt hour. Nilai investasinya diperkirakan mencapai US$6 miliar dan berpotensi menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja. Rincian proyek masih menunggu hasil studi kelayakan.

Selain untuk kendaraan listrik, pengembangan baterai juga ditujukan mendukung pembangkit listrik energi baru terbarukan, termasuk program pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt. “Ini bukan hanya untuk baterai mobil, tapi juga untuk baterai panas surya,” ujar Bahlil.

Bahlil berharap kolaborasi antara perusahaan nasional dengan Huayou dan EVE Energy dapat mempercepat alih teknologi. Ia menekankan pentingnya peran perusahaan dalam negeri agar Indonesia menjadi pemain utama di industri baterai global.

Pemerintah juga mendorong keterlibatan perusahaan daerah, termasuk di Jawa Barat, serta pengembangan tambang, smelter, dan fasilitas hilirisasi di Halmahera Timur, Maluku Utara. “Kalau ini bisa kita jalankan, Indonesia akan menjadi salah satu negara setelah Cina yang memiliki ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *