22 April 2026
AA1VjLoy.jpg



Jochen, seorang kurator satwa di Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), yang merupakan bagian dari Taman Safari Indonesia Group, tampak sangat fokus dalam menjalankan tugasnya. Pada Selasa pagi, 16 Desember 2025, ia mengunjungi berbagai kandang dan kolam yang menjadi tempat tinggal satwa langka yang sedang dalam proses penangkaran. Dari satu kandang ke kandang lainnya, Jochen terlihat memperhatikan setiap detail kondisi satwa dengan penuh perhatian.

Ia tidak hanya memantau satwa, tetapi juga memberikan makanan yang berkualitas tinggi, seperti buah-buahan dan dedaunan segar. Makanan ini dipilih dengan hati-hati agar nutrisi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan satwa. Menurut Jochen, standar makanan yang diberikan kepada satwa di PCBA setara dengan apa yang biasa dikonsumsi manusia.



PCBA menangani satwa-satwa yang terancam punah atau tidak bisa dirawat oleh lembaga konservasi lain. Misalnya, Monyet Darre yang agresif dan berbahaya bagi pengunjung ditempatkan dalam kandang besar dengan luas lebih dari 100 meter. Kandang ini berisi lima jantan, tiga betina, dan satu ekor anak yang lahir di PCBA. Sementara itu, Sempidan Merah, yang berasal dari Asia Tenggara, hidup dalam sangkarnya yang dibuat mirip lingkungan alami mereka.

Kandang Babi Kutil juga dirancang khusus untuk kenyamanan satwa. Terdapat gundukan tanah dan batu serta lantai berlumpur agar Babi Kutil dapat merasa nyaman. Untuk memudahkan pemantauan, PCBA membangun tangga setinggi 50 cm agar para keeper bisa memberi makan dari luar kandang.



Menurut Jochen, PCBA tidak terbuka untuk umum karena fokus pada konservasi. Infrastruktur di sini tidak dirancang untuk kebutuhan pengunjung, melainkan untuk kebutuhan satwa. Meskipun tampak tidak terawat, desain tersebut dilakukan secara sengaja agar satwa merasa nyaman.

PCBA memiliki area seluas lima hektar yang digunakan sebagai tempat penangkaran. Di dalamnya, terdapat banyak rumput dan pohon yang tumbuh alami. Area ini berbeda dengan area edukasi dan rekreasi di Taman Safari Indonesia yang sudah dirancang secara komersial.



PCBA memiliki total 100 jenis satwa yang terdiri dari ikan, invertebrata, mamalia, dan burung. Ikan menjadi dominasi dengan 40 jenis, termasuk Ikan Pelangi yang hidup di sungai air tawar Sulawesi dan Papua. Fasilitas PCBA terdiri dari 300 aviarium, 70 kandang mamalia, dan 300 akuarium.

Satwa-satwa yang terancam punah tidak hanya didapat dari hasil rescue, tetapi juga diberikan oleh lembaga konservasi lain karena ketidaksanggupan infrastruktur, biaya, atau SDM. Salah satu contohnya adalah Kekah Natuna, primata endemik dari pulau Natuna yang disita oleh BKSDA Riau dari hasil perawatan ilegal.



PCBA juga melakukan program breeding untuk Monyet Darre yang luka akibat jerat buatan manusia. Meskipun agresif dan tidak layak ditampilkan ke pengunjung, Monyet Darre tetap memiliki nilai konservasi. Genetiknya tidak berkurang meskipun ada individu yang kehilangan satu tangan. Anak-anak Monyet Darre tetap lengkap dan dapat bereproduksi.

Salah satu keberhasilan PCBA adalah pelepasliaran 40 Jalak Suren pada tahun 2022. Meskipun angka kelangsungan hidup turun karena dimangsa satwa liar, jumlah Jalak Suren di alam liar meningkat menjadi lebih dari 60 ekor.

Selain itu, PCBA juga menyimpan satwa endemik lainnya seperti Sempidan Sumatera, Sempidan Kalimantan, Pleci Jawa, Beo Tenggara, Ayam Modern Game Bantam, Ayam Moa, dan berbagai jenis ikan pelangi rawa gambut.

PCBA juga berencana melepas Murai Maratua ke alam liar jika jumlahnya mencapai 100 ekor.

Konservasi melalui Kolaborasi

PCBA berdiri pada tahun 2017 sebagai jawaban atas kebutuhan ex situ untuk beberapa burung kicau yang terancam di wilayah Sunda Besar. PCBA menjadi salah satu pusat konservasi terbesar di Asia Tenggara.

Lembaga ini bekerja sama dengan berbagai mitra nasional dan internasional, seperti Conservation Planning Specialist Group, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia, Southeast Asia Zoos and Aquarium Association, Zoologischen Gesellschaft für Arten und Populationsschutz (ZGAP), Vogelpark Marlow Erlebnis, dan Zoo Augsburg.

PCBA juga bekerja sama dengan BRIN dalam rangka inovasi. Jochen menegaskan bahwa konservasi tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi butuh jaringan kuat dan kerja sama.

PCBA tidak memilih satwa berdasarkan fisik atau warna bulu, tetapi berdasarkan kemampuan fasilitas dan SDM. Berkat aksi konservasi ini, PCBA mendapatkan apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2024 melalui penghargaan Program Breeding Terbaik 2024.

Direktur Utama Taman Safari Indonesia Group Aswin Sumampau menjelaskan bahwa konservasi di PCBA adalah kebanggaan bagi Taman Safari Indonesia. Selain rekreasi dan edukasi, PCBA memperkuat nilai konservasi yang telah menjadi inti dari Taman Safari Indonesia selama lebih dari 30 tahun.

Aswin menilai bahwa konservasi tidak hanya tentang penyelamatan ketika populasi kritis, tetapi juga pencegahan sejak dini. Perubahan status satwa bisa terjadi sangat cepat, sehingga penting untuk menjaga keberlangsungan spesies.

Pendekatan konservasi di Taman Safari Indonesia 2 Prigen juga mengarah pada penguatan biodiversitas, termasuk pengembangan tumbuhan langka. Dari total area sekitar 250 hektare, sekitar 67% dipertahankan sebagai ruang hijau. Proporsi ini dinilai masih sangat besar untuk dikembangkan sebagai area konservasi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *