22 April 2026
AA1Vkywf.jpg

Peningkatan Signifikan dalam Fasilitas Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS)

Pada tahun 2025, terdapat 77 fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) komersial yang beroperasi di seluruh dunia. Kapasitas penangkapan karbon dari fasilitas-fasilitas ini mencapai 64 juta ton per tahun. Data ini diperoleh dari laporan bertajuk Global Status of CCS Report 2025 yang dirilis oleh Global CCS Institute pada Oktober tahun lalu.

Laporan ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah proyek CCS yang beroperasi meningkat sebesar 54 persen, sedangkan kapasitas penangkapan karbon naik sebesar 20 persen. Selain itu, terdapat 47 fasilitas dalam proses pembangunan, 297 fasilitas dalam tahap pengembangan lanjut, serta 313 fasilitas dalam tahap pengembangan awal. Dengan demikian, total ada 734 proyek CCS yang sudah beroperasi, dalam masa konstruksi, atau dalam pengembangan hingga tahun lalu.

Menurut prediksi Global CCS Institute, kapasitas penangkapan karbon global bisa meningkat lima kali lipat dalam lima tahun ke depan. “Dengan proyek-proyek yang sedang dikembangkan, kapasitas operasional total dapat meningkat menjadi 337 juta ton/tahun dalam lima tahun ke depan, dari 64 juta ton/tahun saat ini,” demikian disebutkan dalam laporan tersebut.

Industri yang Mengadopsi CCS

Industri-industri yang mengadopsi teknologi CCS tercatat cukup beragam. Namun, industri dengan kapasitas penangkapan karbon terbesar adalah pengolahan gas alam, pupuk/amonia/hidrogen, serta pembangkit listrik dan panas. Proyek-proyek ini menjadi fokus utama dalam upaya mengurangi emisi karbon secara signifikan.

Secara geografis, wilayah dengan kapasitas penangkapan karbon terbesar yaitu Amerika Utara dan Amerika Selatan. Namun, kondisi ini kemungkinan akan berubah pada tahun 2030. Meskipun Amerika Utara tetap menjadi wilayah dengan kapasitas terbesar, Amerika Selatan diprediksi akan tersalip oleh Eropa, Asia Pasifik, dan Timur Tengah.

Faktor Pendorong Pengembangan CCS

Berdasarkan laporan Global CCS Institute, peningkatan proyek CCS dipicu oleh beberapa faktor, antara lain kebijakan yang mendukung, kepentingan komersial, dan meningkatnya pengakuan CCS sebagai solusi krisis iklim. Namun, meski ada progres yang signifikan, estimasi capaian di 2030 dinilai masih jauh dari kapasitas yang dibutuhkan untuk mengejar target perjanjian pengendalian iklim global.

Selain itu, pemanfaatan CCS masih menuai pro-kontra. Salah satu alasan utamanya adalah rekam jejak CCS yang belum konsisten. Sejumlah proyek di dunia dilaporkan gagal mencapai target penangkapan karbon atau bahkan dihentikan karena masalah teknis dan ekonomi. Hal ini membuat sebagian kalangan meragukan klaim CCS sebagai solusi skala besar.

Indonesia dan Australia sebagai Pusat CCS di Asia Pasifik

Masih berdasarkan laporan yang sama, terdapat 54 proyek CCS di Asia Pasifik, dan sebagian besar berada di Indonesia dan Australia. Bila mengacu pada data pemerintah Indonesia, terdapat 19 proyek penangkapan, penyimpanan, dan pemanfaatan karbon (CCS/CCUS) yang tengah diproses di dalam negeri. Proyek-proyek ini tersebar di berbagai wilayah kerja hulu migas.

Global CCS Institute menyebut, kerja sama lintas negara menjadi faktor kunci bagi berkembangnya teknologi CCS di Asia Pasifik. Dalam beberapa tahun belakangan, pemerintah di kawasan ini mulai merundingkan perjanjian yang memungkinkan karbon dioksida (CO2) ditangkap di satu negara lalu diangkut dan disimpan di negara lain.

Negara dengan keterbatasan ruang penyimpanan seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura menjajaki skema ekspor karbon. Sebaliknya, negara dengan potensi geologi besar untuk penyimpanan karbon, termasuk Indonesia, mulai menyusun regulasi, perizinan, dan model bisnis CCS untuk menangkap prospek sebagai hub atau pusat penyimpanan karbon kawasan.

Indonesia, Australia, dan Malaysia disebut sebagai negara-negara yang paling maju dalam soal kebijakan atau regulasi CCS sehingga berpotensi menjadi hub.

Tantangan Pengembangan CCS di Asia Pasifik

Yang masih menjadi tantangan pengembangan CCS di kawasan Asia Pasifik antara lain masih banyaknya negara yang belum punya kerangka kebijakan yang komprehensif soal penangkapan, pengiriman, dan penyimpanan karbon. Selain itu, belum adanya insentif untuk meringankan biaya penerapan teknologi CCS di luar sektor migas.

Pemerintah Indonesia mengklaim potensi penyimpanan karbon mencapai 572,77 gigaton untuk saline aquifer (akuifer yang airnya asin) dan 4,85 gigaton di depleted reservoir (akuifer yang airnya habis), terbesar di Asia Pasifik.

Proyek CCS Terkemuka di Indonesia

Proyek CCS dengan perkembangan paling maju adalah proyek Tangguh Ubadari Ubadari CCUS dan Compression (Tangguh UCC) garapan British Petroleum (BP) di Teluk Bintuni, Papua Barat. Proyek tersebut tengah dalam tahap konstruksi dan ditargetkan bisa beroperasi pada 2028. Fasilitas CCS yang dibangun BP berskala besar dan berpotensi menjadi CCS Hub pertama di Indonesia, dengan potensi kapasitas penyimpanan CO2 sekitar 1,8 gigaton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *