24 April 2026
AA1V2Lvd.jpg

Kembalinya Semangat Petani Padi di Kampung Bumi Ajo

Hasil panen petani padi di Kampung Bumi Ajo, Distrik Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan di awal tahun 2026. Setelah dua tahun berturut-turut mengalami penurunan produksi akibat kondisi iklim yang tidak stabil, kini para petani mulai melihat harapan baru.

Selama dua tahun terakhir, produksi padi di lahan petani terus menurun karena tingginya curah hujan yang memicu serangan hama wereng dan ulat. Hal ini menyebabkan banyak petani mengalami kerugian dan trauma akibat gagal panen berulang kali.

Tahun lalu, hasil panen hanya berkisar 20 karung gabah per setengah hektare. Namun, pada tahun ini, total produksi mencapai lebih dari 60 karung atau lebih dari 2,5 ton gabah. Menurut Ratisno, seorang petani setempat, hasil tersebut jauh melebihi ekspektasi.

“Kalau dibandingkan dengan musim yang lalu, dari segi jumlah dan kualitasnya meningkat,” ujarnya saat ditemui pada Sabtu (24/1/2026).

Padi yang dipanen berasal dari varietas Cigeulis yang diperoleh melalui pengadaan bibit dari dinas pertanian setempat. Varietas ini dinilai lebih tahan terhadap hama dan mampu menghasilkan gabah dengan kualitas yang lebih baik dibanding varietas sebelumnya.

“Sebelumnya, kami menggunakan bibit Ciherang, tapi hasilnya terus menurun dari musim ke musim,” tambah Ratisno.

Meski produksi telah meningkat, petani masih menghadapi beberapa tantangan. Sistem pengairan di wilayah tersebut belum optimal, sehingga sawah masih mengandalkan air hujan. Ketika air tidak tersedia, tanah menjadi panas dan tanaman terganggu.

Selain itu, hama wereng dan ulat tetap menjadi ancaman yang membuat petani harus terus waspada. Ratisno berharap dukungan pengairan dan pengendalian hama dapat ditingkatkan agar hasil panen ke depan lebih stabil dan berkelanjutan.

“Kalau airnya sudah maksimal, hasilnya bisa lebih bagus lagi. Sekarang masih bergantung hujan,” katanya.

Hasil panen kali ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan petani padi lain supaya kembali menanam setelah dua tahun penuh ketidakpastian. Dengan perbaikan sistem pengairan dan pengendalian hama, semoga hasil panen petani akan terus meningkat dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.

Tantangan yang Masih Menghadang Petani

Petani di Kampung Bumi Ajo masih menghadapi beberapa tantangan yang menghambat perkembangan pertanian mereka. Salah satu masalah utama adalah sistem pengairan yang belum optimal. Wilayah ini masih bergantung sepenuhnya pada air hujan, sehingga ketika musim kemarau tiba, tanaman bisa mengalami stres akibat kekeringan.

Selain itu, hama wereng dan ulat tetap menjadi ancaman yang mengancam hasil panen. Meskipun varietas padi Cigeulis lebih tahan terhadap hama, petani tetap harus menjaga kebersihan lahan dan melakukan pengawasan rutin untuk mencegah serangan hama.

Ratisno berharap pemerintah dan dinas pertanian dapat memberikan dukungan lebih lanjut dalam bentuk pembangunan infrastruktur pengairan dan program pengendalian hama yang lebih efektif. Dengan dukungan tersebut, diharapkan hasil panen petani akan lebih stabil dan berkelanjutan di masa depan.

Harapan Masa Depan

Dengan peningkatan produksi padi di tahun ini, Ratisno dan para petani lainnya berharap kondisi ini menjadi awal dari perbaikan yang berkelanjutan. Hasil panen yang baik diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat petani yang sebelumnya merasa kecewa dan putus asa akibat dua tahun gagal panen beruntun.

Kehadiran varietas padi Cigeulis juga memberikan harapan baru bagi petani. Dengan kualitas gabah yang lebih baik dan daya tahan terhadap hama, varietas ini diharapkan mampu membawa perubahan positif dalam sektor pertanian di wilayah tersebut.

Semoga dengan dukungan yang tepat dan kolaborasi antara petani, pemerintah, dan dinas pertanian, Kampung Bumi Ajo dapat menjadi contoh sukses dalam meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *