Kanada Tegaskan Tidak Akan Mengendurkan Diversifikasi Perdagangan
Kanada menegaskan komitmennya untuk tidak mengendurkan upaya diversifikasi perdagangan dari Amerika Serikat (AS), meskipun kembali menghadapi ancaman tarif dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Ancaman ini muncul setelah Trump menyampaikan kritik terhadap Perdana Menteri Kanada Mark Carney melalui media sosial, dengan menyatakan bahwa akan dikenakan tarif 100% terhadap seluruh produk asal Kanada jika negara tersebut menjadi “pelabuhan transit” bagi ekspor China ke AS.
Ancaman ini muncul sebagai respons atas kesepakatan terbaru antara Kanada dan China, yang mencakup penurunan tarif kendaraan listrik asal China sebagai imbalan atas konsesi perdagangan di sektor pangan, termasuk kanola dan daging sapi. Meski demikian, Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand menegaskan bahwa negaranya tidak sedang menegosiasikan perjanjian perdagangan bebas dengan China.
Dalam wawancara dengan Canadian Broadcasting Corp., Anand menyatakan bahwa Kanada tidak memiliki pilihan selain melanjutkan strategi untuk menggandakan ekspor non-AS dalam 10 tahun ke depan. Ia menekankan bahwa diversifikasi perdagangan merupakan fondasi utama dalam melindungi dan memperkuat perekonomian Kanada.
“Kami perlu melindungi dan memperkuat perekonomian Kanada, dan diversifikasi perdagangan merupakan fondasi utama. Itulah alasan kami menjalin kerja sama dengan China, itulah sebabnya kami akan ke India, dan itulah mengapa kami tidak akan menaruh semua telur dalam satu keranjang,” ujar Anand.
Langkah Strategis Kanada Menuju Pasar Baru
Menteri Energi Kanada Tim Hodgson dijadwalkan menghadiri konferensi energi di Goa, India bagian barat, serta menggelar pertemuan dengan pelaku industri dan pejabat pemerintahan Perdana Menteri India Narendra Modi. Kedua negara diperkirakan akan membahas peluang kerja sama dan potensi kesepakatan di sektor mineral kritis, uranium, dan gas alam cair (LNG), mengingat Kanada memiliki cadangan sumber daya tersebut dalam jumlah besar.
Selain itu, Carney juga berencana mengunjungi India dalam waktu dekat serta melakukan lawatan ke Australia pada Maret mendatang. Meskipun demikian, Anand menekankan bahwa hubungan Kanada dan AS tetap kuat dan diyakini akan berlanjut. Hubungan perdagangan bilateral kedua negara merupakan salah satu yang terbesar di dunia.
Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, sepanjang 10 bulan pertama tahun lalu, AS mengekspor barang senilai sekitar US$280 miliar ke Kanada—tertinggi dibandingkan negara lain—serta mengimpor US$322 miliar dari Kanada, meskipun ketegangan tarif terus berlangsung.
Perspektif Ekonomi dan Kekhawatiran di AS
Industri otomotif kedua negara juga sangat terintegrasi, yang menjadi salah satu alasan mengapa kesepakatan Kanada dengan China—meski dibatasi hanya 49.000 unit kendaraan listrik China per tahun—memicu kekhawatiran di AS. Menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent, “Kami memiliki pasar yang sangat terintegrasi dengan Kanada. Barang bisa melintasi perbatasan hingga enam kali selama proses manufaktur. Kami tidak bisa membiarkan Kanada menjadi celah masuk bagi barang murah China ke AS.”
Retaknya hubungan Amerika Utara dinilai mengandung risiko ekonomi yang jauh lebih besar bagi Kanada, mengingat ukuran ekonominya lebih kecil dan tingkat diversifikasinya lebih terbatas. Randall Bartlett, wakil kepala ekonom Desjardins Group, menyatakan bahwa jika tarif 100% benar-benar diberlakukan, itu akan menjadi bencana. Namun, ia menilai kemungkinan penerapan tarif tersebut sangat kecil karena Trump sering melontarkan ancaman tarif yang kemudian ditarik kembali.
Meski demikian, Trump kembali mengunggah pernyataan terkait Kanada dan China pada Minggu sore melalui Truth Social. “China berhasil dan sepenuhnya mengambil alih negara yang dulu hebat, Kanada. Sangat menyedihkan melihat ini terjadi. Saya hanya berharap mereka membiarkan olahraga hoki es tetap utuh!” tulis Trump.