22 April 2026
AA1TxMTP.jpg

Tensi Geopolitik Memicu Kekhawatiran Pasar Global

Tensi geopolitik kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada hari Sabtu (3/1/2026) waktu setempat. Insiden ini mengundang kekhawatiran di kalangan pasar global terkait stabilitas pasokan energi dan dampaknya terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), David Sumual, menyatakan bahwa insiden ini berpotensi memicu sentimen negatif, terutama dalam pergerakan harga minyak mentah dunia. Menurutnya, Venezuela merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia dan masuk dalam jajaran 15 besar produsen minyak global. Hal ini menjadikan negara tersebut sebagai faktor penting dalam menentukan harga minyak secara keseluruhan.

“Yang paling dikhawatirkan adalah pengaruhnya terhadap harga minyak. Jika ada sentimen negatif dan harga melonjak, ekspektasi inflasi ke depan juga akan meningkat,” ujarnya.

David menjelaskan bahwa kenaikan ekspektasi inflasi global dapat memiliki efek domino terhadap kebijakan moneter. Perkembangan ini, lanjutnya, dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau yang dikenal sebagai yield.

Masalahnya, jika yield obligasi AS naik, maka dampaknya akan merambat ke pasar keuangan domestik. “Jika yield obligasi AS meningkat, bisa berpengaruh ke pasar-pasar negara berkembang, termasuk ke yield Surat Berharga Negara (SBN) kita juga,” tambahnya.

Selain itu, David juga menyoroti risiko terhadap nilai tukar rupiah dan inflasi domestik. Mengingat posisi Indonesia sebagai net importir minyak dan bahan bakar minyak (BBM), lonjakan harga minyak global akan memberatkan neraca pembayaran negara.

“Jadi, jika harga petroleum meningkat, itu akan terpengaruh ke kurs Rupiah. Kekhawatirannya terhadap kurs dan inflasi kita juga tentunya,” jelas David.

Meski begitu, David melihat bahwa dampak dari guncangan ini kemungkinan tidak akan berlangsung lama atau bersifat sementara. Alasannya, saat ini pasar minyak sedang mengalami kelebihan pasokan di tengah melambatnya permintaan global.

Dia membandingkan situasi ini dengan konflik Iran-Israel pada Mei 2025 yang memicu lonjakan harga minyak, namun hanya bersifat sementara. “Untungnya, permintaan dunia memang agak melambat. Kalau saya lihat, seharusnya dampaknya tidak terlampau besar karena dari sisi permintaan tidak terlampau kuat,” ungkapnya.

Meskipun demikian, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada dan menanti pembukaan pasar pada Senin (5/1/2026). Reaksi pasar terhadap insiden penangkapan tersebut akan menjadi indikator utama arah pergerakan ekonomi dalam jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *